Jumat, 15 Maret 2013

Display Siswa-Siswi Madania


Display by Putra and Prita


1.     Display Ara: Sad Ripu (7Y)


Sad Ripu adalah 6 musuh dalam diri yang harus dikendalikan. Sifat-sifat itu adalah Kama (keinginan), Lobha (rakus), Krodha (marah), Mada (mabuk), Moha (kebingungan), danMatsarya (iri hati).
Pekerjaan ini dibuat oleh siswa Hindu Madania bernama Made Agustha Intaran Sukma (Ara), pada tanggal 8 Oktober 2009,  yang pada saat itu masih duduk di kelas 7Y – Semester 1.

2.     Display Prita :NawaDewata (8R)


Nawa Dewata artinya Sembilan manifestasi Sanghyang Widhi sebagai penguasa 9 penjuru dunia. Nama dewata tersebut adalah Dewa Iswara (timur), Dewa Mahadewa (barat), Dewa Brahma (selatan), Dewa Rudra (baratdaya), Dewa Mahesvara (tenggara), Dewa Sankara (barat laut), Dewa Visnu (utara), Dewa Shambu (timur laut), dan Dewa Siva (tengah). 
Display ini dibuat oleh Putu Ayu Pritarianti, salah satu siswi Hindu Madania, pada tanggal 13 Oktober 2008, yang saat itu kelas 8R – Semester 1.

3.     Display Icha: Panca Sembah (6F)


Panca Sembah adalah lima jenis sembah yang dilakukan pada saat memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa. Panca Sembah biasanya dilakukan setelah Puja Tri Sandya.
Display yang dibuat pada tanggal 2 Maret 2012, karya Made Ayu Gitagayatri (Icha) ini menulis kan semua mantra Panca Sembah mulai dari muspa puyung yang pertama, muspa dengan Bunga putih, lalu muspa dengan kwangen 1, dilanjutkan  lagi muspa dengan kwangen yang ke- 2, dan ditutup dengan muspa puyung.

4.     Display Icha: Tri Murti (2I)


Tri Murti adalah 3 perwujudan/manifestasi dari Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Brahma (pencipta), Visnu (pemelihara),  Siva (Pelebur).
Display Tri Murti yang dibuatoleh Made Ayu Gitagayatri (Icha) pada saat ia masih duduk di kelas 2I, menjelaskan tugas dari 3 Dewa tersebut, saktinya, dan aksara dari masing-masing dewa. 

5.     Display Putra: Sapta Timira (9S)


Display ini dibuat oleh Komang Putra Setiawan pada tahun 2009-2010 ketika ia berada di kelas 9 SMP.
Display ini berisi tentang Sapta Timira yang berarti tujuh hal yang bisa membuat orang mabuk. Ketujuh hal tersebut adalah; Surupa (mabuk karena ketampanan atau kecantikan), Kulina (mabuk karena kebangsawanan), Dhana (mabuk karena harta/uang), Sura (mabuk karena minuman keras), Guna (mabuk karena kepintaran), Kasuran (mabuk karena keberanian), dan Yowana (mabuk karena keremajaan).
Surupa artinya wajah yang tampan atau cantik. Kulina artinya keturunan atau asal-usul. Dhana artinya kekayaan atau harta. Sura artinya keberanian, dan Yowana artinya masa muda.

6.     Display Putra: Kepemimpinan (10W)


Display ini dibuat oleh Komang Putra Setiawan pada tahun ajaran 2010-2011 ketika dia berada di kelas 10 SMA.
Display ini menceritakan tentang kepemimpinan. Ilmu kepemimpi dalam ajaran Hindu disebut Nitisastra. Nitisastra berisi tentang Catur Kotamaning Nrpati, Tri Upaya Sandhi Tipe-tipe kepemimpinan, dan kepemimpinan yang  ideal menurut Hindu.
Catur Kotamaning Nrpati artinya empat sifat yang perlu dimiliki seorang pemimpin yang terdiri dari Jnana Wisesa Sudha yang artinya pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luhur dan suci, dan Kaprahitang Praja yang artinya pemimpin harus mempunyai rasa belaskasihan pada rakyatnya.




7.     Display Prita: Kepemimpinan (11A)

Karya ini dibuat oleh Putu Ayu Pritarianti pada tanggal 1 Juni 2012, saat Semester 1 di kelas 11A.
Display ini menjelaskan tentang Pengertian kepemimpinan hindu, lalu tujuan dari seorang pemimpin, dan asas-asasnya seperti Panca Dasa Pramiteng Prabu (15 pedoman seorang pemimpin Hindu), Sad Warnaning Raja Niti (6 corak yang dimiliki oleh seorang pemimpin), Panca Upaya Sandhi (5 upaya seorang pemimpin untuk memecahkan masalah), dan Nawa Natya (9 sifat teguh seorang pemimpin yang  bersusila).  
Saat duduk di kelas 10, mereka juga mempelajari kepemimpinan, tetapi dengan pembahasan yang berbeda. Seperti yang ada di display yang dibuatoleh Putra, isi display dari Putra hanya membahas tentang ilmu, tipe dari seorang pemimpin, dan bagaimana menjadi pemimpin yang ideal. Di kelas 11 ini, diajarkan juga asas dan tujuan dari seorang pemimpin.

8.     Display Prita: Sejarah Agama Hindu (10D)


Display ini dibuat oleh Putu Ayu Pritarianti (Prita), saat berada di kelas 10D, pada tanggal 6 Juni 2011
Sejarah Agama Hindu dimulai di India. Wahyu yang diturunkan oleh Tuhan/Brahman/Ida SanhHyang Widhi Wasa, langsung diterima oleh para Sapta Rsi. Dari para Sapta Rsi, turunkan lagi/diterjemahkan lagi oleh Rsi Wyasa beserta 4 muridnya yaitu Rsi Pulaha, Rsi Jaimini, Rsi Waysampayana, dan Rsi Sumantu. Setelah itu barulah dibaca oleh umat Hindu sebagai Kitab Suci Veda.
Di dalam display ini ada penjelasan lengkap Hindu di India, berikut dengan 3 jaman yang berbeda, dan ada juga Hindu di Negara Lain seperti Mesir, Mexico, Peru, California, dan Australia. Ada juga kutipan dari Buku Pelajaran Agama Hindu untuk kelas X.

9.     Display Prita: SaptaTimira (10D)


Display ini dibuat oleh Putu Ayu  Pritarianti, saat berada di kelas 10D, dibuat pada tanggal 7 Oktober 2009.
Sapta Timira adalah 7 perbuatan yang memabukkan dan harus dikendalikan. Isi dari display ini sama dengan display yang dibuat oleh Putra saat dikelas 10D juga, hanya saja dengan design yang berbeda.

10.    Display Prita: Sradha: Sifat-sifat Tuhan (7A)


Display ini dibuat oleh Putu Ayu  Pritarianti pada bulan Juli-Agustus 2007 saat berada di kelas 7A - Semester 1.
Pada bab Sraddha ini belajar tentang sifat-sifat Tuhan, yaitu Cadhu Sakti (4 KemahakuasaanTuhan) dan Asta Aiswarya (8 sifat KeagunganTuhan).
Isi dari display ini menjelaskan bagian dan arti dari Cadhu Sakti dan Asta Aiswarya beserta contohnya.
Bagian dari Cadhu Sakti adalah Jnana Sakti (Maha Tahu), Prabhu Sakti (Maha Kuasa), Krya Sakti (Maha Karya), dan Wibhu Sakti (Maha Ada), sedangkan bagian dari Asta Aiswarya adalah Prapti (ada dimana-mana), Prakamya (segala keinginannya bisa tercapai), Isitwa (maha kuasa dan paling utama), Yatra Kama Wasayitwa (maha kuasa, segala kehendaknya tidak bisa di tentang), Laghima (Tuhan menganmbil wujud seringan-ringannya), Mahima (Tuhan mengambil wujud sebesar-besarnya), Anima (Tuhan menambil wujud sekecil-kecilnya), dan Wasitwa (bisa mengatasi segala rintangan dan hambatan).

11.    Display Ara: Tempat Suci, Pura Tri Bhuana Agung–Depok  (7Y)


Display ini dibuat oleh Made Agustha Intaran Sukma, pada tanggal 9 Februari 2010. Pada saat  ia duduk dikelas 7Y
Didalam display ini Ara memilih Pura Tri Bhuana Agung Depok (Jl, Kerinci Raya, DepokTimur) sebagai penjelasan mengenai tempat suci agama hindu, yaitu Pura. Ia memotret bagian bagian dari pura, lalu melebelnya.

12.    Display Prita: Nawa Dewata (8R)


Display ini dibuat oleh Prita pada tahun ajaran 2008-2009 ketikadiaberada di kelas 8 SMP.
Isi display ini adalah tentang Nawa Dewata. Nawa Dewata adalah 9 manifestasi Sanghyang Widhi sebagai penguasa 9 penjuru dunia. Bagian dari Nawa Dewata adalah: Dewa Iswara (Timur), Dewa Mahadewa (Barat), Dewa Brahma (Selatan), Dewa Rudra (Barat Daya), Dewa Mahesora (Tenggara), Dewa Sankara (Barat Laut), Dewa Visnu (Utara), Dewa Shyambu (Timur Laut), dan Dewa Siva (Tengah).  Pada display ini juga terdapat time table agar pembaca bisa mengetahui warna,  sakti,  senjata, dan lain sebaginya berkaitan dengan Nawa Dewata.

13.    Display Ara: Avatara (9Y)


Display ini dibuat oleh Made Agustha I.S. pada tahun ajaran 20011-2012 ketika ia berada di kelas 9 SMP.
Isi dari display ini adalah Deva, Bhatara, dan Avatara. Dewa artinya sinar suci dari Hyang Widhi sedangkan Bhatara artinya pendukung, pelindung, dan pemimpin. Avatara adalah reinkarnasi Dewa Visnu turun ke dunia manakala Adharma merajalela di bumi. Ada 10 Avatara yang terdiri dari: Matsya Avatara, KurmaAvatara, Waraha Avatara, Narashima Avatara, Wamana Avatara, Parasurama Avatara, Rama Avatara, Krishna Avatara, Buddha Avatara,  dan Kalki Avatara.

14.    Display Ara: Catur Guru (5P)

Display ini dibuat oleh Made Agustha Intaran Sukma pada tahun ajaran 2007-2008 saat dia duduk dikelas 5 SD.
Display ini berisi tentang Catur Guru. Catur Guru adalah empat jenis guru yang harus kita hargai, seperti: Guru Rupaka (Orang Tua), Guru Pengajian (guru di sekolah), Guru Wisesa (pemimpin negara, polisi, tentara), dan Guru Swadyaya (Tuhan, Ida Sang Hyang WidhiWasa, Dewa – Dewi).

15.    Display Prita: Perhitungan Hari Suci (7A, Semester II)

Display ini dibuat oleh Putu Ayu  Pritarianti pada saat kelas 7, Semester II.
Perhitungan hari suci ini terbagi menjadi dua, ada yang berdasarkan sasih dan ada yang berdasarkan wuku. Ada juga cara menghitung hari suci dengan menggunakan telapak tangan. Pada display ini tertulis juga 30 Wuku, Sapta Wara, dan Panca Wara.

Selasa, 29 Januari 2013

Refleksi Siswa

APA YANG SAYA DAPAT DI AGAMA HINDU MADANIA 
BY: Made Agustha Intaran Sukma 10D 
Saya sudah bersekolah di Madania kurang lebih 6 tahun, saya masuk saat saya menginjak kelas 4 SD. Di Madania Agama Hindu sangat difasilitasi dengan ruangan yang nyaman, tempat sembahyang, juga guru Agama Hindu bernama bu Ayu. 
Pertama kali saya mengikuti acara gathering, saya orang yang sangat pemalu, saya hanya duduk diam, sampai kakak-kakak kelas mengajak saya untuk bermain bersama, mulai saat itu saya mulai lebih percaya diri. 
Akademik saya tidak terlalu jelek namun tulisan saya di display saat kelas 4 SD sangatlah berantakan dan sangat besar sehingga saya selalu disuruh menulis dengan baik. Inilah masa dimana saya pertama kali membuat poster dengan materi (Tri Sarira), dimana tulisan saya masih sangat berantakan. 
Simpulan yang saya dapat dari pelajaran Agama Hindu di Madania adalah saya belajar Agama tidak dari pandangan materi saja, namun diajarkan untuk menjadi seseorang yang akan sukses dan berjiwa besar dengan karakter yang baik serta bangga menganut Agama Hindu. Di Madania ini juga kita terus melakukan persembahyangan saat gathering dengan dipilihnya pemimpin sembahyang bertujuan agar kita bisa menjadi pemimpin kelak nanti. 

Refleksi Siswa

Yang Saya Dapat dari Agama Hindu Madania 
 Made Ayu Gitagayatri 7K 
Setelah 6 tahun belajar Agama Hindu bersama guru tercinta Ibu Ayu, (kelas 1-6) saya mendapatkan bahwa pelajaran Agama Hindu sangatlah menarik untuk dipelajari. Tidak hanya belajar Agama Hindu, dalam waktu 6 tahun itu aku juga diajari banyak hal diluar Agama Hindu. Ibu Ayu mengajari saya menulis melalui media belajar display berjudul ‘ciptaan tuhan dan ciptaan manusia’ saat saya masih kelas 1. Walaupun saat itu tulisanku masih sangat berantakan dan bisa dibilang naik turun gunung, tetapi aku tetap menghargai diriku sendiri karena sudah bisa membuat display. Ibu Ayu juga tidak lupa mengajarkanku membaca. Tetapi kali ini Ibu Ayu mengajarkanku membaca dengan cara menyuruh aku membaca buku-buku Agama Hindu yang tidak terlalu sulit untuk dibaca oleh anak seumuranku (kelas 1). Selain membantuku belajar membaca dan menulis Ibu Ayu juga membantu aku dalam meningkatkan nilai matematika atau yang lebih sering aku sebut degan math. Saat kelas 6 nilai matematika saya sangat menurun. Untuk mempersiapkan UN dengan baik maka Ibu Ayu mengajarkanku math saat ada sisa waktu setelah belajar Agama Hindu atau saat Gathering. Aku juga sangat senang bisa mendapatkan kesempatan bersekolah di Madania. Selain karena teman-teman yang baik juga karena ruangan Agama Hindu yang selalu mengundang kita untuk datang kesana lagi dan lagi. Aroma dupa di ruangan Agama Hindu banyak membuat guru-guru dan murid-murid madania yang datang kesana menjadi sangat nyaman dan terkadang membuat ngantuk. Salah satu murid madania yang selalu nyaman di ruangan hindu adalah aku. Selain ruangannya, lingkungan sekitar ruangan Agama Hindu Agama Hindu juga sangat menyenangkan dan seru. Kakak kelas yang ada bersikap baik terhadap saya dan adik-adik kelas yang lucu-lucu itu selalu menggoda kita untuk bertemu mereka kembali. Ruangan Agama Hindu di sekolah Madania memang dibagi menjadi tiga. Satu ruangan berisi tiga agama. Tetapi saya tidak keberatan dengan tetangga ruangan Agama Hindu ini. Justru itu yang membuat kita bersosialisai dengan teman-teman yang berbeda agama. Setelah 6 tahun belajar Agama Hindu aku mengetahui cara melakukan sembahyang atau sikap sembahyang Gayatri maupun Trisandya. Selain itu saya juga belajar bahwa sebelum dan sesudah kita belajar kita harus berdoa dan juga sebelum tidur. Selain itu saya juga belajar atau mengetahui berbagai macam pura yang ada di Jabodetabek, dan juga saya mengetahui dengan jelas sejarah Agama Hindu yang sangat amat rumit itu. Selain membaca dan menulis saat belajar agama Hindu kita bisa berkreatifitas dengan membuat power point tentang materi yang sedang dipelajari atau dengan cara membuat display. Terima kasih (:
Parung, 30 Januari 2013 Made Ayu Gitagayatri (7K)

Minggu, 14 Agustus 2011

Pendidikan di Madania By. Gusti Ayu Sutini

Sejak berdiri pada tahun 1998, Madania Sekolah Berwawasan Internasional (SBI Madania) hingga kini baru memiliki 4 kelas siswa Agama Hindu yang terdiri dari kelas 1, 4, 6 dan 10 dengan total siswa 5 orang. Dengan mengunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar disini terdapat ± 1500 siswa dengan latar belakang dan agama yang berbeda. Ada yang beragama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha dan Yehova. Sekolah ini terletak jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk kota yaitu di Komplek Perumahan Telaga Kahuripan, Parung - Bogor - Jawa Barat.
Di sini sebenarnya ada puluhan orang yang menggunakan nama dengan ciri khas Bali tetapi hanya tinggal 5 orang saja yang masih beragama Hindu. Dengan menyekolahkan putra-putri mereka di sekolah ini sudah dapat dipastikan tingkat ekonomi mereka adalah menengah ke atas karena uang pangkal untuk masuk ke sini pada tahun 2006 sebesar Rp. 45.000.000. dan SPP Rp. 1.250.000 per bulan. Dengan kemampuan finansial seperti ini bukan tidak mungkin bahwa mereka adalah golongan orang-orang yang berkualitas dalam hal pendidikan dan pengalaman.
Wahai orang-orang bijak, jika kita tetap mau mempermasalahkan dan membedakan saudara-saudara kita dengan stempel Hindu Bali dan Non Bali maka yakinlah akan semakin banyak lagi orang Hindu yang meninggalkan Hindu itu sendiri, sehingga akan susah bagi kita untuk mendapatkan SDM Hindu yang berkualitas, mampu dan peduli akan pendidikan Hindu di masa depan. Semoga Ida Sanghyang Widhi menuntun setiap langkah kita, “Om anno badrah kerto payantu wiswatah”.
Siswa Hindu di SBI Madania melakukan puja Gayatri atau Tri Sandya setiap hari pada saat siswa muslim Sholat dan siswa Buddha mengikuti program yang telah disepakati sedangkan siswa Kristen kebaktian/doa. Yang mana sangat jarang ada sekolah yang menyiapkan kebutuhan siswanya berdasarkan agama yang dianutnya. Sekolah ini merupakan laboratorium kehidupan bagi para brahmacari, bahwa dikehidupan nyata pun kita akan mengalami dan berkumpul dalam berbagai perbedaan. Di sini terdapat banyak siswa berprestasi tingkat nasional dan internasional namun juga ada siswa special need, ADHD, ADD, dan Asperger yang masih didampingi aide teacher saat belajar.
Kenangan pada masa brahmacari akan berpengaruh bagi seseorang dalam mendidik dan memberikan pendidikan bagi penerusnya dimasa mendatang. Oleh karena itulah maka disini para pendidik diharuskan untuk tidak mematikan kreatifitas siswa dalam KBM. Dalam menegur siswa pun guru dilarang mengunakan nada negatif. Misalnya teguran yang tidak benar adalah no running, no busy talking, atau kamu tidak tahu. Sebaliknya Guru diwajibkan menegur dengan kalimat walk please, silent please or be quiet please atau kamu seharusnya lebih rajin belajar.
Proses Pembelajaran Agama Hindu di SBI Madania berlangsung unik sesuai dengan karakter siswa dengan menggunakan metode active learning dan sebelum pelajaran dimulai selalu diawali dengan menyalakan dupa, Puja Gayatri atau Tri Sandya di depan altar lalu Suryanamaskar di atas karpet dan ruangan ber AC. Setelah itu barulah siswa belajar dengan aktif, santai, nyaman, dan tertib. Setiap Hari Raya Galungan bila tidak bersamaan dengan ujian semester biasanya siswa Hindu di ajak mengikuti sembahnyang bersama umat Hindu Bogor di Pura Giri Kusuma Bogor. Setelah sembahyang selesai mereka pun kembali ke sekolah dan belajar seperti biasa.
Kini SBI Madania telah dua kali berganti nama dan logo. Pada tahun 2010 SBI Madania berganti nama menjadi Madania Progressive Indonesia School dengan alas an karena sering mengikuti perlombaan/pertadingan dalam bidang olah raga tingkat Internasional maka nama Indonesia yang lebih ditonjolkan. Namun dengan beberapa koreksi dalam Logo Madania PIS pada waktu itu (Mind, Heart, and Spirit) kembali pada tahun 2011 berganti nama menjadi Madania With World Class Standar.

Di bawah ini adalah beberapa foto-foto siswa Hindu SBI Madania saat KBM.




Siswa Kelas 6 sedang mengikuti ujian praktik membuat banten, mebanten ,Tri Sandya dan Muspa di ruang Agama Hindu.

Foto sesaat setelah Tri Sandya di ruang agama Hindu SBI Madania sebelum sembahyang Galungan Ke Pura Giri Kusuma - Bogor.

Gambar Siswa-siswi Madania saat Tirtayatra Ke Bali.
Pada tanggal 10-14 Maret 2007 Siswa Hindu SBI Madania mengadakan program Tirtayatra ke Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Besakih, Pura Batur, Pura Uluwatu, Pura Tanah Lot, dan Pura Rambut Siwi.

Gambar Siswa-siswi Madania saat Tirtayatra Ke Bandung.
Pada tanggal 7 April 2008 Siswa Hindu SBI Madania mengadakan program Tirtayatra ke 4 Pura di Bandung:
1. Pr. Wira Satya Lokanatha, Cimahi
2. Pr. Wira Satya Akasa, Sulaeman
3. Pr. Wira Satya Dharma, Ujung Berung
4. Pr. Wira Chandra Dharma, Secapa
5. Kunjungan ke Depag – Bandung.
















Rabu, 11 Agustus 2010

Pengalaman Tirtayatra Ke Bali By Komang Putra Setiawan

Pengalaman Tirtha Yatraku di Bali
By Putra (6S)
       Saya bersama teman-teman yaitu Prita, Ara, Kak Nanda dan Bu Ayu beserta suami dan anaknya yaitu Pak Dewa dan Gek Wya pergi ke Bali untuk Tirtha Yatra. Ketika kita tiba di Bandara Ngurah Rai dengan menggunakan Pesawat Garuda, kita di jemput oleh Kak Nanda dan Tantenya. Ketika kita sudah tiba di rumahnya, kita bisa berenang, makan, dan membuat banten. Hari ini juga saya tidur bersama Ara. Keesokan harinya kita sarapan paginya apa saja yang kita perlu dan yang kita mau. Di perjalanan kita membeli makanan dan minuman. Kita pertamanya ke Pura Lempuyang. Di sana kita harus mendaki sebanyak 1800 anak tangga sejauh 6 kilometer di gunung Lempuyang. Saya merasa tidak senang, tidak enak, keliru. Kita berhasil Tirtha Yatra di Pura Lempuyang. Saya sangat lega karena berhasil mencapai Pura Lempuyang dan sembahyang di sana. Di sana udaranya sangat sejuk, anginnya keras sekali karena lima hari sebelumnya ada badai yang menumbangkan banyak pohon, kita berada di ketinggian 1425 meter di atas permukaan laut sehingga kabutnya sangat tebal dan menyebabkan hujan rintik-rintik dari pohon. Seharusnya kita turun dari Pura Lempuyang Luhur dengan pesawat yang kecil, helikopter, kereta gantung, atau kereta api. Namun ternyata belum ada di situ, nanti kalau saya mau dan punya banyak uang saya akan membuat semua fasilitas itu ada. Setelah itu kita ke Pura Goa Lawah yang ada banyak kelelawar. Itu tidak sesuai rencana karena kita sudah sangat capek turun dari Pura Lempuyang luhur padahal rencananya kita mau ke Pura Andakasa dan Pasraman Ibu Gedong di Karangasem.
       Besoknya kita ke Pura Besakih. Di sana kita bertemu banyak anjing. Setelah sembahyang kita ke Pura Batur. Kita melewati hutan Kintamani yang adalah kampung halaman anjing Kintamani yang putih, hitam, & abu-abu. Di Pura Batur ada tempat sembahyang umat Konghucu. Puranya sangat sepi kecuali pada hari raya baru ramai. Kita kehujanan di sana, lalu kita menyewa 2 payung. Lalu kita ke Pura Uluwatu yang puranya dekat laut & yang selalu dihampiri turis. Di sana banyak monyet. Bendaku pernah mau direbut sama monyet. Monyet-monyetnya selalu menjarah orang-orang yang datang pura. Selimutnya Gek Wya pernah mau direbut sama monyet. Ketika Bu Ayu melindunginya, monyetnya memantati Bu Ayu, he he he. Pulangnya dari sana kita makan di kafe pamannya Ara yaitu Kafe Nyoman. Di sana pernah terjadi Bom Bali 2. Saya tersedak ketika makan ikan bakar.
       Keesokan harinya kita ke Pura Tanah Lot yang ada di pantai Tanah Lot. Di sana kita harus menyucikan diri kalau mau sembahyang disana. Saya pernah menyentuh ular suci yang ada di goa Tanah Lot. Lalu kita ke Pura Rambut Siwi yang banyak lalatnya & dekat laut juga. Disana banyak lalat karena bau laut yang amis. Setelah kita pulang, saya dijemput mama. Lalu saya mengikuti acara keluargaku di Pura keluargaku & menengok nenekku yang sudah tua. Kemudian kami kembali ke Jakarta Pada hari Kamis tanggal 15 Maret 2007. Saya sangat senang dengan perjalanan ini. Terima kasih orang tuaku, terima kasih guruku dan juga terima kasih sekolahku.

Selasa, 10 Agustus 2010

Pengalaman Tirtayatra Ke Bali By Made Agustha I.S.


Kisah Tirtayatra 10-14 Maret 2007
By Deara (4W)

Pada saat aku ke Pura Lempuyang aku sangat capek karena perjalanannya 6 km dari parkiran mobil dan aku sangat kecewa karena permen nano-nanoku diambil oleh monyet yang ada di balik pepohonan. Aku dan Kak Prita membalap rekor Kak Nanda yang menaiki gunung lebih tinggi dari aku dan Kak Prita akan tetapi saat sudah tiga kali istirahat Kak Prita tidak bisa lebih tinggi dari Kak Nanda aku tetap jalan dan tidak berhenti setelah aku melihat pura akhirnya kita sampai di pura yang kita tuju sebelum itu kita membeli minuman dan kacang tetapi Pak Dewa bertanya bu disini kok sepi ya padahal ini kan Pura Lempuyang kata Pak Dewa tetapi ibu itu berkata ini bukan Pura Lempuyang ini Pura Pasar Agung semua murid Bu Ayu berkata yah capek deh!! Kata semua murid Bu Ayu serentak.
Sesampainya di Pura Lempuyang Luhur aku bertanya mas kira-kira tingginya dari atas kebawah berapa? Kataku mas itu menjawab 1425 diatas permukaan laut  wah tinggi bener nih ampe 1000 kalau turun capek lagi gak ya? kataku dalam hati. Saat sampai ke rumah aku ingin menonton karena ada acara kesukaanku ya itu kartun. Dalam perjalanan pulang aku mampir dulu sembahyang ke Pura Goa Lawah, disitu banyak sekali kelelawar hampir beribu-ribu kelelawar menyangkut di dalam goa itu tetapi para pedanda masih bisa ke dalam walaupun banyak kelelawar wah gimana yah kalau yang sensitive terhadap kelelawar pasti sudah takut kepada kelelawar iih jijik.
 Sesampai di jalan aku makan tetapi di pinggir jalan aku berkata wah orang kaya yang tersiksa semua orang di situ pada ketawa karena ya emang betul sih Kak Nanda orang kaya dan Kak Prita orang kaya juga pasti pada ketawa Karena mereka sudah melupakan tentang diri mereka sendiri tetapi saat makan aku berpikir bahwa kita itu sudah seperti orang miskin yang lebih tersiksa wah bisa juga ya berpikir seperti itu mana ada orang yang berpikir sebegitu dan juga lagi makan apa gak pengen makan lagi tuh tapi kalau aku sih makan aja yang penting enak kan.
Sesampai di rumah aku belajar membuat banten dengan semat tetapi karena belum kuat aku memakai steples untuk  membuat banten yang akan di bawa besoknya. Keesokaan harinya aku ke Pura Besakih, Batur, dan Uluwatu perjalanan ke Pura Besakih kira kira 1 jam sesampainya di Pura Besakih aku dan teman temanku berjalan ke padma tiga dan melewati tangga. Aku dan Kak Prita menghitung berapa jumlah tangga yang kita naiki pada saat ke padma tiga hanya ada 68 tangga tidak sama dengan pura lempuyang yang bertangga 1800 tangga dari parkiran. Perasaanku selama menjalani kedua kegiatan ini aku merasa sedikit capek dan senang karena bisa menjelajah ke pura pura yang tak pernah ku kenal di Bali. (Made Agustha I.S.)
 

Kamis, 05 Agustus 2010

Made Wiwekananda Kusuma: Pengalaman Tirta Yatra

Pengalaman Titrayatra Ke Bali
Nanda 10L


Perjalanan Tirtayatra Tgl 10-14 Maret sangatlah menyenangkan karena untuk pertama kalinya siswa Hindu mengadakan acara Titrayatra ke luar kota. Waktu itu aku yang menjemput Adik-adik kelas beserta Bu Ayu dan keluarganya. Aku sudah tiba di Bali sehari sebelum mereka semua datang. Setelah menjemputnya, saya langsung mengantarkan mereka menuju rumahku di Jl. Tukad Unda 5 no.11. Sampai dirumahku kita harus mempersiapkan diri untuk besok karena besok kita akan berangkat ke Pura Lempuyang Luhur dan saya sudah pernah kesana bersama keluarga saya, jadi saya tahu bagaimana lelahnya menuju Pura itu yang berada di puncak gunung Lempuyang. Untuk menuju ke sana kita tidak dapat mengunakan mobil melainkan dengan cara berjalan kaki.

Sesampainya di rumahku, aku langsung membagikan kamar untuk mereka termasuk keluarga bu Ayu. Saat sore hari Prita, Putra dan Ara langsung berenang di rumahku. Kami melakukan makan malam bersama, dan selalu berkumpul dan berdoa bersama setiap akan sarapan dan makan malam.

Pada hari pertama kita ke Pura Lempuyang Luhur dan Goa Lawah dan hari kedua berjalan ke Pura Besakih, Pura Batur, dan Pura Uluwatu. Di hari ke tiga kita semua menuju Pura Tanah Lot dan Pura Rambut Siwi.

Dari Titrayatra ini saya mendapat banyak pengalaman, mulai dari saya harus belajar bertanggung jawab untuk menjaga adik-adik Hindu yang semuanya masih SD, belajar untuk menjadi pemimpin, harus tetap tegar menghadapi segala sesuatu, dan juga belajar berani dalam mengambil suatu keputusan dengan tepat dan cepat. Contohnya ketika kita semua kelelahan sepulang dari Pura Lempuyang Luhur, akhirnya saya memutuskan tidak jadi ke Pura Andakasa dan ke Pasraman Ibu Gedong melainkan ke Pura Goa Lawah saja. Harapan saya agar di tahun yang akan datang dapat mengadakan Tirtayatra lagi. Terima Kasih pada kedua Orang Tuaku dan Sekolah Madania. (Made Wiwekananda Kusuma)