Senin, 18 Maret 2024

SHRI GITA CHALISA

Kegiatan rutin kami di Sekolah Madania setiap hari ketika siswa Muslim Sholat Jumat, Kristen Kebaktian, Katolik Doa Rosario, Buddha Namaskara maka Kami Siswa Hindu membaca Gita Chalisha bersama. 

Jadwal Gathering Siswa Hindu Madania: 

Senin-Kamis : Puja Tri Sandya, Meditasi dan kebersamaan. 

Jumat            : Puja Tri Sandya, Membaca Kitab Suci Bhagawad Gita, Meditasi dan Ngobrol Santai.

              SHRI GITA CHALISA

No

Sloka Bhagawad Gita

Artinya (Oleh Gede Pujha)

1.

dhṛtarāṣṭra uvāca

dharma-kṣetre kuru-kṣetre

samavetā yuyutsavaḥ

māmakāḥ pāṇḍavāś caiva

kim akurvata sañjaya

Bhagavad Gita, 1.1

 

Dhṛtarāṣṭra berkata:

Apakah yang akan mereka lakukan, pasukanku dan pasukan Pandawa di medan dharma Kurukshetra yang siap tempur, wahai Sanjaya?

2.

sañjaya uvāca
taḿ tathā kṛpayāviṣṭam
aśru-pūrṇākulekṣaṇam
viṣīdantam idaḿ vākyam
uvāca madhusūdanaḥ

Bhagavad Gita, 2.1

 

Sañjaya berkata:

Madhusudana berkata kepada Arjuna yang diliputi rasa belas kasihan dengan pelupuk mata digenangi air mata dan rasa remuk redam dalam hati, sebagai berikut”:

3.

śrī-bhagavān uvāca 

aśocyān anvaśocas tvaḿ

prajñā-vādāḿś ca bhāṣase

gatāsūn agatāsūḿś ca

nānuśocanti paṇḍitāḥ

Bhagavad Gita, 2.11

 

śrī-bhagavān bersabda:

Engkau berduka kepada mereka yang tak patut engkau sedihkan, namun engkau berbicara tentang kata-kata bijaksana. Orang bijaksana tak akan bersedih baik bagi yang hidup maupun yang mati.

4.

dehino ‘smin yathā dehe
kaumāraḿ yauvanaḿ jarā
tathā dehāntara-prāptir
dhīras tatra na muhyati

Bhagavad Gita, 2.13

Sebagaimana halnya sang roh itu ada pada masa kecil, masa muda dan masa tua demikian juga dengan diperolehnya badan baru, orang bijaksana tak akan tergoyahkan.

5.

vāsāḿsi jirnāni yathā vihāya

navāni gṛhnati naro ’parani

tathā sarirāni vihāya jirnāny

anyāni saḿyāti navāni dehi

Bhagavad Gita, 2.22

 

Seperti halnya orang menanggalkan pakaian usang yang telah dipakai dan menggantikannya dengan yang baru. Demikian pula halnya jiwatman meninggalkan badan lamanya dan memasuki jasmani yang baru.

6.

sukha-duḥkhe same kṛtvā

lābhālābhau jayājayau

tato yuddhāya yujyasva

naivaḿ pāpam avāpsyasi

Bhagavad Gita, 2.38

 

Dengan mempersamakan sukha dan dukha, untung dan rugi, menang dan kalah, siapkanlah dirimu untuk menghadapi perang itu, sehingga engkau terhindar dari dosa (perasaan bersalah).

7.

karmaṇy evādhikāras te

mā phaleṣu kadācana

mā karma-phala-hetur bhūr

mā te sańgo ‘stv akarmaṇi

Bhagavad Gita, 2.47

 

Berbuatlah hanya demi kewajibanmu, bukan hasil perbuatan itu yang kau pikirkan, jangan sekali-kali pahala jadi motifmu dalam bekerja. Jangan pula hanya berdiam diri tanpa bekerja.

8.

buddhi-yukto jahātīha

ubhe sukṛta-duṣkṛte

tasmād yogāya yujyasva

yogaḥ karmasu kauśalam

Bhagavad Gita, 2.50

 

Orang yang terikat oleh budhi-nya bebas dari perbuatan baik dan keji. Karena itu laksanakanlah yoga itu, sebab melakukan kegiatan kerja yang sempurna sama dengan yoga.

9.

indriyāṇāḿ hi caratāḿ

yan mano ‘nuvidhīyate

tad asya harati prajñāḿ

vāyur nāvam ivāmbhasi

Bhagavad Gita, 2.67

 

Sesungguhnya pikiran yang mengikuti keinginan panca indra bila tak terkendalikan akan terbawalah kebijaksanaannya, laksana perahu yang hanyut dalam air kebawa angin.

10

prakṛteḥ kriyamāṇāni

guṇaiḥ karmāṇi sarvaśaḥ

ahańkāra-vimūḍhātmā

kartāham iti manyate

Bhagavad Gita, 3.27

 

Sesungguhnya setiap perbuatan yang dilakukan disebabkan oleh sifat prakerti (naluri), tapi orang yang bingung karena keakuannya (ahamkara) berpikir ‘aku inilah pelaksananya’.

11

evaḿ buddheḥ paraḿ buddhvā

saḿstabhyātmānam ātmanā

jahi śatruḿ mahā-bāho

kāma-rūpaḿ durāsadam

Bhagavad Gita, 3.43

 

Jadi dengan mengetahui dia sebagai yang lebih agung dari kecerdasan, dengan mengendalikan sang diri dengan sang diri, basmilah musuhnya dalam wujud hawa nafsu yang sulit ditundukkan, wahai mahabahu .

12

yadā yadā hi dharmasya

glānir bhavati bhārata

abhyutthānam adharmasya

tadātmānaḿ sṛjāmy aham

Bhagavad Gita, 4.7

 

Sesungguhnya manakala dharma berkurang kekuasaannya dan tirani hendak merajalela, wahai Arjuna, saat itu aku ciptakan diriku sendiri.

13

catur-varnyam´ maya srstam´

guna-karma-vibhagasah

tasya kartaram api mam´

viddhy akartaram avyayam

Bhagavad Gita, 4.13

 

Catur warna (empat tatanan masyarakat) adalah ciptaan-Ku menurut pembagian kualitas dan kerja; tetapi ketahuilah bahwa walaupun Aku penciptanya, Aku tak berbuat dan merubah diri-Ku.

14

karmaṇy akarma yaḥ paśyed

akarmaṇi ca karma yaḥ

sa buddhimān manuṣyeṣu

sa yuktaḥ kṛtsna-karma-kṛt

Bhagavad Gita, 4.18

 

Dia yang melihat tanpa kegiatan pada kegiatan kerja, kerja (karma) dalam tak kerja, ia sesungguhnya orang bijaksana diantara manusia. Ia dikendalikan dan bekerja dengan sempurna.

15

brahmārpaṇaṁ brahma havir

brahmāgnau brahmaṇā hutam

brahmaiva tena gantavyaṁ

brahma-karma-samādhinā

Bhagavad Gita, 4.24

 

Brahman adalah persembahan itu, Brahman adalah mentega, yang dipersembahkan pada api Brahman, hanya kepada Brahmanlah ia yang mengetahui Brahma menghadap dalam kegiatan kerjanya.

16

na hi jñānena sadṛśaḿ

pavitram iha vidyate

tat svayaḿ yoga-saḿsiddhaḥ

kālenātmani vindati

Bhagavad Gita, 4.38

 

Tak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menyamai kesucian ilmu pengetahuan; mereka yang sempurna dalam yoga akan memenuhi dirinya sendiri dalam jiwanya pada waktunya.

17

sannyāsas tu mahā-bāho

duḥkham āptum ayogataḥ

yoga-yukto munir brahma

na cireṇādhigacchati

Bhagavad Gita, 5.6

 

Tetapi samnyasa tanpa yoga sungguh sukar dicapai, wahai Mahabahu, seorang muni yang dilengkapi dengan karma yoga mencapai Brahman dengan segera.

18

brahmaṇy ādhāya karmāṇi

sańgaḿ tyaktvā karoti yaḥ

lipyate na sa pāpena

padma-patram ivāmbhasā

Bhagavad Gita, 5.10

 

Mereka mempersembahkan semua kerjanya, kepada Brahman, berbuat tanpa motif keinginan apa-apa, tak terjamah oleh dosa papa, laksana daun Teratai oleh air.

19

yo māḿ paśyati sarvatra

sarvaḿ ca mayi paśyati

tasyāhaḿ na praṇaśyāmi

sa ca me na praṇaśyati

Bhagavad Gita, 6.30

 

Dia yang melihatku melihat segalanya ada pada-Ku. Aku tak bisa lepas dari padanya dan dia tak bisa lepas dari pada-Ku.

20

catur-vidhā bhajante māḿ

janāḥ su-kṛtino ’rjuna

ārto jijñāsur arthārthī

jñānī ca bharatarṣabha

Bhagavad Gita, 7.16

 

Ada empat macam orang yang baik hati memuja pada-Ku, wahai Arjuna, (yaitu) mereka yang sengsara, yang mengejar ilmu, yang mengejar harta dan yang berbudi, wahai Arjuna.

21

bahūnāḿ janmanām ante

jñānavān māḿ prapadyate

vāsudevaḥ sarvam iti

sa mahātmā su-durlabhaḥ

Bhagavad Gita, 7.19

Orang yang bijaksana akan datang kepada-Ku pada akhir banyak kelahiran, karena tahu Vasudeva adalah segalanya ini; sukar mendapatkan orang agung seperti itu.

22

avyaktaḿ vyaktim āpannaḿ

manyante mām abuddhayaḥ

paraḿ bhāvam ajānanto

mamāvyayam anuttamam

Bhagavad Gita, 7.24

 

Orang yang picik pengertian beranggapan Aku yang tak berbentuk menjadi termanifestasikan, tidak mengetahui sikap-Ku yang lebih tinggi kekal abadi dan Yang Maha Tinggi.

23

yaḿ yaḿ vāpi smaran bhāvaḿ

tyajaty ante kalevaram

taḿ tam evaiti kaunteya

sadā tad-bhāva-bhāvitaḥ

Bhagavad Gita, 8.6

 

Apapun yang diingat dan dipikirkan seseorang pada saat ajal tiba, meninggalkan badan jasmani ini, wahai Arjuna, ia akan sampai  pada keadaan yang terpikirkan itu, sebab hal itu terus menerus terserap dalam pikiran itu.

24

tasmāt sarveṣu kāleṣu

mām anusmara yudhya ca

mayy arpita-mano-buddhir

mām evaiṣyasy asaḿśayaḥ

Bhagavad Gita, 8.7

 

Karena itu, kapan saja ingatlah pada-Ku selalu, dan berjuanglah terus maju, dengan pikiran dan pengertian tetap pada-Ku, engkau pasti akan sampai kepada-Ku.

25

ananyāś cintayanto māḿ

ye janāḥ paryupāsate

teṣāḿ nityābhiyuktānāḿ

yoga-kṣemaḿ vahāmy aham

Bhagavad Gita, 9.22

 

Mereka yang hanya memuja-Ku, tanpa memikirkan yang lainnya, yang senantiasa penuh pengabdian, kepada mereka Kubawakan segala  yang mereka butuhkan dan Kulin-dungi segala apa yang mereka miliki.

26

patraḿ puṣpaḿ phalaḿ toyaḿ

yo me bhaktyā prayacchati

tad ahaḿ bhakty-u pahṛtam

aśnāmi prayatātmanaḥ

Bhagavad Gita, 9.26

 

Siapapun yang dengan sujud bhakti Kepada-Ku mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah, seteguk air, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.

27

man-manā bhava mad-bhakto

mad-yājī māḿ namaskuru

mām evaiṣyasi yuktvaivam

ātmānaḿ mat-parāyaṇaḥ

Bhagavad Gita, 9.34

 

Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbhakti pada-Ku, bersujud pada-Ku, sembahlah Aku dan setelah kau mengendalikan dirimu dengan Aku jadi tujuanmu tertinggi, engkau akan tiba pada-Ku.

28

ahaḿ sarvasya prabhavo

mattaḥ sarvaḿ pravartate

iti matvā bhajante māḿ

budhā bhāva-samanvitāḥ

Bhagavad Gita, 10.8

Aku adalah asal mula segala yang ada, dari Aku lahirnya segala suatu ini, mengetahui ini – orang bijaksana memuja-Ku dengan sepenuh hati.

29

mat-karma-kṛn mat-paramo

mad-bhaktaḥ sańga-varjitaḥ

nirvairaḥ sarva-bhūteṣu

yaḥ sa mām eti pāṇḍava

Bhagavad Gita, 11.55

 

Ia yang melakukan kegiatan kerja untuk-Ku, yang memandang-Ku sebagai Yang Utama, yang bebas dari keterikatan, yang tanpa permusuhan terhadap segala insani, dia datang kepada-Ku wahai putra Pandawa.

30

mayy eva mana ādhatsva

mayi buddhiḿ niveśaya

nivasiṣyasi mayy eva

ata ūrdhvaḿ na saḿśayaḥ

Bhagavad Gita, 12.8

 

Pusatkanlah pikiranmu hanya pada-Ku, biarlah kesadaranmu ada pada-Ku, setelah itu  engkau akan hidup di dalam-Ku, dan ini tak perlu disangsikan lagi.

31

yāvat sañjāyate kiñcit

sattvaḿ sthāvara-jańgamam

ksetra-ksetrajña-saḿyogāt

tad viddhi bharatarṣabha

Bhagavad Gita, 13.26

 

Apapun yang diciptakan, wahai yang terbaik dari wangsa Bharata, yang bergerak atau yang tidak bergerak, ketahuilah itu terjadi karena hubungan antara yang mengetahui lapangan dan lapangannya.

32

māḿ ca yo ’vyabhicāreṇa

bhakti-yogena sevate

sa guṇān samatītyaitān

brahma-bhūyāya kalpate

Bhagavad Gita, 14.26

 

 

Ia yang mengabdi pada-Ku dengan bhakti yang tulus, setelah mengatasi guna, layak manunggal dengan Brahman.

33

sarvasya cāhaḿ hṛdi sanniviṣṭo

mattaḥ smṛtir jñānam apohanaḿ ca

vedaiś ca sarvair aham eva vedyo

vedānta-kṛd veda-vid eva cāham

Bhagavad Gita, 15.15

 

Aku berdiam dalam hati semua ingatan, ingatan dan ilmu pengetahuan, hilangnya ingatan datangnya dari Aku; sesungguhnya Akulah yang harus diketahui oleh Kitab Veda, Akulah pencipta Vedanta dan Aku pulalah yang mengetahui Veda.

34

tri-vidhaḿ narakasyedaḿ

dvāraḿ nāśanam ātmanaḥ

kāmaḥ krodhas tathā lobhas

tasmād etat trayaḿ tyajet

Bhagavad Gita, 16.21

 

Tiga pintu gerbang ke neraka, menuju jurang kehancuran diri, yaitu kama, krodha dan lobha (keinginan, kemarahan, dan rakus), oleh karena itu ketiganya harus ditinggalkan.

35

anudvega-karaḿ vākyaḿ

satyaḿ priya-hitaḿ ca yat

svādhyāyābhyasanaḿ caiva

vāń-mayaḿ tapa ucyate

Bhagavad Gita, 17.15

Kata-kata yang tidak melukai hati, dapat dipercaya, lemah lembut dan berguna, demikian pula membiasakan diri dalam mempelajari kitab-kitab suci, ini dinamakan pertapaan kata-kata.

36

bhaktyā mām abhijānāti

yāvān yaśh chāsmi tattvataḥ

tato māṁ tattvato jñātvā

viśhate tad-anantaram

Bhagavad Gita, 18.55

 

Dengan berbhakti kepada-Ku, ia mengetahui siapa dan apa sesungguhnya Aku, dan dengan mengetahui hakekat-Ku, ia mencapai Aku dikemudian hari.

37

īśvaraḥ sarva-bhūtānāḿ

hṛd-deśe ’rjuna tiṣṭhati

bhrāmayan sarva-bhūtāni

yantrārūḍhāni māyayā

Bhagavad Gita, 18.61

 

Yang Maha Kuasa berdiam dihati setiap insani, menyebabkan mereka semua berputar, wahai Arjuna, beredar dengan prinsip kekuatan maya-Nya, seolah-olah berada di atas mesin belaka.

38

sarva-dharmān parityajya

mām ekaḿ śaraṇaḿ vraja

ahaḿ tvāḿ sarva-pāpebhyo

mokṣayiṣyāmi mā śucaḥ

Bhagavad Gita, 18.66

Tinggalkanlah semua kewajibanmu, datang berlindunglah kepada-Ku saja; janganlah berduka, sebab Aku akan membebaskanmu dari segala dosa.

39

ya idaḿ paramaḿ guhyaḿ

mad-bhakteṣv abhidhāsyati

bhaktiḿ mayi parāḿ kṛtvā

mām evaiṣyaty asaḿśayaḥ

Bhagavad Gita, 18.68

 

Dia yang mengajarkan rahasia utama ini kepada para pengikut-Ku dengan memperlihatkan kebhakti-annya yang tertinggi kepada-Ku tak dapat disangkal akan datang pada-Ku.

40

yatra yogeśvaraḥ kṛṣṇo

yatra pārtho dhanur-dharaḥ

tatra śrīr vijayo bhūtir

dhruvā nītir matir mama

Bhagavad Gita, 18.78

 

Di manapun ada Sri Krsna penguasa yoga dan Arjuna sang pemanah utama berada, di sana pasti ada kebahagiaan, kemenangan, kesejahteraan dan moralitas, demikianlah pendapat hamba.

Oṁ apavitraḥ pavitro vā sarvāvasthāng gato’pi vā, 

yaḥ smaret puṇḍarīkākṣaṁ  sa bāhyābhyantaraḥ śuciḥ.
Śrī Vişņu, Śrī Vişņu Śrī Vişņu (Garuda Puraņa 2.47.52)

 

“Ya Tuhan YME, apakah hamba dalam keadaan tidak suci, dalam keadaan suci,  atau dalam keadaan apa pun hamba, dengan mengingat NamaMU Tuhan Yang Maha Pengasih didalam hati, maka hamba yakin akan disucikan lahir dan batin”   Om Santih Santih Santih Om

 


Rabu, 30 Agustus 2023

1.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1


Paket Modul 1.1 kami pelajari selama 2 Minggu yaitu mulai tanggal 16-31 Agustus 2023, sesuai dengan agenda yang tertera pada jadwal di atas.

Saya lulus sebagai calon guru penggerak (CGP) pada angkatan 7 namun saya baru mengikuti PGP Angkatan 9. Mengikuti kegiatan PGP sangat mewarnai kegiatan saya saat ini karena kita bisa mengetahui kegiatan pembelajaran yang berlangsung pada sekolah-sekolah lainnya mulai dari tingkat Paud hingga tingkat menengah atas dari para CGP lainnya.

Dulu saat saya belajar di tahun 1900 -an saya suka mendengar semboyan pendidikan yang disampaikan  oleh Bapak Ki Hajar Dewantara yaitu: 'ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya mangun Karso dan Tut Wuri Hadayani'. Seiring dengan berjalannya waktu semboyan tersebut sempat menghilang beberapa saat. Namun kini di masa kepemimpinan Bapak Nadiem Anwar Makarin menjadi Mentri Pendidikan RI, semboyan tersebut kembali berkumandang.

Setelah 22 tahun bergelut dibidang pendidikan sebagai Guru Agama Hindu saya menyadari bahwa ada beberapa tipe anak yang tidak suka digurui atau diceramahi, mereka akan cenderung tutup telinga jika kita menasehatinya.  Jika mereka tidak atau belum tahu mereka akan sangat nyaman jika kita tuntun untuk menjadi tahu sampai mereka memahami benar maksud dan tujuan kita dengan cara memberikan contoh atau teladan dari depan (Ing ngarso sung tulodo), bersama-sama mempraktikan sesuatu dengan berkarya bersama (ing madya mangun karso) dan memberikan motivasi, bukan menyalahkannya saat dia gagal (tut wuri handayani).  Semboyan pendidikan dari Ki Hajar Dewantara ini tak lekang dimakan zaman. 

Pengajaran merupakan bagian dari pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantara, Pengajaran adalah proses pendidikan dalam memberi ilmu untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Pendidikan adalah proses menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya baik sebagai mahkluk individu maupun sebagai bagian dari masyarakat (Modul 1.1). 

Sistem penilaian di Sekolah Madania sejak berdirinya pada tahun 1998 lebih menekankan pada proses pendidikan dari pada hasil tes. Hal ini tampak dari Semester outline para pengajar. seperti pada gambar berikut ini: 

   

Pendidikan yang diterapkan di sekolah madania: 

  1. Guru merancang dan memberikan pembelajaran dengan cara yang menyenangkan sesuai dengan gaya belajar, kepribadian, Multiple Intelegent dan minat siswa. 
  2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggali dan mengekspresikan dirinya sesuai dengan minatnya.
  3. Terlebih dahulu guru harus mempelajari latar belakang dan karakter siswa.
  4. Guru senantiasa menuntun siswanya dalam meraih sukses dibidangnya masing-masing.
  5. Menerapkan pembelajaran kompetensi 4C: Creativity, Critical thinking,  Collaboration, communication.


Harapan kedepannya semoga kami selalu bisa menjadi: 
  1. Sekolah yang ramah anak. 
  2. Berkolaborasi menciptakan kedalaman spiritual, intelektual, dan sosial untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia.
  3. Menggali dan dan mengembangkan potensi siswa dan mengakomodasi karakteristik masing-masing peserta didik dengan cara memfasilitasi silabus Wellbeing di setiap jenjang pendidikan.

Sekian dan terima kasih,
Gusti Ayu Kade Sutini, S.P., M.Fil.H
PGP Angkatan ke-9



Shiva Panca Aksara

 

Shiva Panchakshara Stotram

nagendraharaya trilochanaya
bhasmangaragaya mahesvaraya
nityaya suddhaya digambaraya
tasmai na karaya namah shivaya 

namah shivaya namah shivaya (8X)


mandakini salila chandana charchitaya
nandisvara pramathanatha mahesvaraya
mandara pushpa bahupushpa supujitaya
tasmai ma karaya namah shivaya

namah shivaya namah shivaya (8X)


shivaya gauri vadanara brnda
suryaya dakshadhvara nashakaya
sri nilakanthaya vrshadhvajaya
tasmai shi karaya namah shivaya

namah shivaya namah shivaya (8X)


vashistha kumbhodbhava gautamarya
munindra devarchita shekharaya
chandrarka vaishvanara lochanaya
tasmai va karaya namah shivaya

namah shivaya namah shivaya (8X)


yagna svarupaya jatadharaya
pinaka hastaya sanatanaya
divyaya devaya digambaraya
tasmai ya karaya namah shivaya

namah shivaya namah shivaya (8X)


Meaning

 

He who has the king of snakes as his garland and who has three eyes,
He whose body is smeared with sacred ashes and who is the great Lord,
He who is eternal, who is ever pure with the four directions as his clothes,
Salutations to that Shiva, who is represented by the syllable “na”


He who is worshipped with water from the Mandakini river and smeared with sandal paste,
He who is the lord of Nandi and of the ghosts and goblins, the great Lord,
He who is worshipped with Mandara and many other flowers,
Salutations to that Shiva, who is represented by the syllable “ma”


He who is auspicious and who is like the newly risen sun causing the lotus-face of Gauri to blossom,
He who is the destroyer of the sacrifice of Daksha,
He who has a blue throat and has a bull as his emblem,
Salutations to that Shiva, who is represented by the syllable “shi”


He who is worshipped by the best and most respected sages – Vasishtha, Agastya and Gautama, and also by the gods, and who is the crown of the universe,
He who has the moon, sun and fire as his three eyes,
Salutations to that Shiva, who is represented by the syllable “va”


He who is the embodiment of yagna (sacrifice) and who has matted locks,
He who has the trident in his hand and who is eternal,
He who is divine, who is the shining one and who has the four directions as his clothes,
Salutations to that Shiva, who is represented by the syllable “ya


Saksikan Penampilan Siswa-Siswa Sekolah Madania pada bulan Feb 2020 melalui Youtube Sekolah madania dengan mengklik Link berikut ini. Madania Festival 2020: Siswa Hindu: Shiva Panca Aksara

Kisah Dua Ekor Burung dalam Muṇdaka Upaniṣad

 


Selasa, 05 Desember 2017

Testimoni Made Ayu Gita Gayatri



Learning Hinduism in Madania
By Icha 12K


After studying here in Madania for about 12 years, I’ve learned a lot of stuff. One of them was learning Hinduism. It was fun learning Hinduism here, the study method persuades us, the students here, to learn more than just from power point presentation, papers, and pens like what we are used to in our base class. Here, we made displays, presentations, also we often discuss questions we want to ask from a particular topic we are currently studying. Although currently, I’m the oldest among Hindu students in Madania, it didn’t really make a difference from when I was the youngest 12 years ago. We, I and the other Hindu students in Madania, can still communicate and have fun despite of our age difference. However, sometimes I do feel lonely for not having anyone that can relate to all the problems I face at high school, that explains why now days, I find excuses not to join Tirtayatra or any activities if it involves going outside the school. Sometimes I do have something important to do like tests, yet, sometimes its just because I don’t have someone that I can relate with. Despite the atmosphere around Hindu gathering room, being a Hindu alone is honestly quite challenging. I often get questions from people about my own religion and to be honest sometimes I can’t even answer a few. But that’s okay, if it really bothers me I often asks Ibu Ayu about it, but most of the time, me being a shy person, I avoid to ask and just find the answer online.
Growing up, Hindu was never that hard. At least it’s not as hard as what a lot of my friends portray learning about their religion. They always describe religion as something “very hard” or “have to memorize a ton of stuff”. But as I grow, Hindu got a lot harder. Although I often study what I have studied before, but sometimes, the varieties of things I need to memorize and understand gets wider and wider, especially at high school. Honestly, sometimes I blame the authorities in Indonesia for changing its curriculum exaggeratingly every time. Hindu gets very confusing and hard to understand. That one time in grade 11, I believe, the curriculum asks me to memorize a huge book full of philosophy, the topic was called Sad Darsana, and I kid you not, it was the first time I need to do remedial studying religion. Often times, I repeat what I’ve learned before more than 2 times like when I learned Sad Ripu in Lower Secondary, at each grade. I get easily bored because of the repetition, also, my chances to learn a more broad topic of Hindu gets shrunk. Let’s take example, I was always excited to learn about Dasa  Avatara, a topic I always see in displays of my juniors or even seniors, but I never got a chance to learn it because the curriculum keeps rolling.
Along the 12 years of learning Hindu here in Madania, the most interesting lesson I got was being able to memorize 8 Sloka of Bhagawad Gita. The first time Ibu Ayu told me about the existence of Bhagawad Gita was sometime around grade 2 in Primary school. What catches my attention is the word “Gita” in it, well, long story short, Gita is my name, and soon from then I got amazed by the meaning of it. Gita means singing, and for a very long time, singing has been a hobby of mine. That’s why, from then I started borrowing the Bhagawad Gita from the religion room. Even when we went on Tirtayatra to Bandung and could get Bhagawad Gita for free, I took 2 home. I read it and bring it everywhere, I brag to my friends, to my parents and siblings without really knowing what’s the real meaning of the sayings there, it’s just a very interesting story. For a very long time Bhagawad Gita was a very interesting topic to learn, I always got exited every time Ibu Ayu asks me to rewrite one sloka from Bhagawad Gita in our reflection book complete with my reflection of the sloka, but never in my mind I ever think of memorizing even one sloka from Bhagawad Gita. Until, when I entered high school I am forced and insisted to memorize at least 5 Sloka. Honestly, it was hard, memorizing it and being able to sing the Slokas, but once you got the hang of it, you’ll love it. Although for me, I don’t love it much enough to get me memorize more than 8 slokas I have memorized, maybe because I don’t really have time for it, but hopefully in days to come, I can memorize more slokas.
Hinduism room in Madania, both the old one and new one, is one of the legend witnesses of my life. On happy days or even sad depressing days. Despite of all the problems I face learning Hinduism in Madania, the experience has been amazing, I get to learn so many stuff, like literally from learning how to read and write here, to Balinese dancing, to singing, to recording dramas, and so many more amazing things. I thank Ibu Ayu for always giving me chances to become a better version of myself through teaching me Hinduism. Honestly for me, going to Hinduism room at 12 PM every day after a long half day of school is always a happy escape from my responsibilities, and that will soon be gone as I will attend college not more than 5 months. May Hindu in Madania became better and better throughout the years to come. It was a privilege to be inside of the history of Hindu in Madania.
16 November 2017
Best Regards,



Made Ayu Gitagayatri 12K

Senin, 07 November 2016

Yadnya dalam Mahabharata

Karya ini dibuat oleh siswa Pasraman Giri Kusuma kelas 11 di bawah bimbingan Guru agamanya (Bu Ayu Sutini)

Minggu, 25 September 2016

Tugas siwa kelas V SD (Pencapaian Moksa melalui Catur Marga)

tugasnya ini masih dalam proses karena masih banyak hal yang harus diperbaiki.... Tujuan umat Hndu bukanlah moksa melainkan untuk mencapai Catur Purusha Artha.... Tujuan akhir manusia barulah MOKSA.