Minggu, 21 Agustus 2016

Samskara

 By: I Gede Aidantha Sidra 9E



Samskara Hindu di Indonesia dan India

Kata pengantar
Daftar Isi
Pendahuluan
Samskara Hindu di Indonesia
Samskara Hindu di India
Persamaan Dan perbedaan Samskara Hindu di Indonesia dan India
Kesimpulan


Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kasih dan cinta kepada kita, sehingga saya dapat menyelesaikan entri  yang berjudul "Samskara" saya membuat entri ini sebagai pekerjaan di sekolah saat pelajaran agama Hindu saya berterima kasih kepada source yang saya telah temukan di internet.


Pendahuluan 

Weda adalah kitab suci umat Hindu, merupakan sumber dan jiwa dari mana filsafat (darsana) dan peradaban India berkembang. Ada semacam perkembangan gradual pemikiran ke arah yang lebih filsafati dari Mantra Samhita, Brahmana, Aranyaka dan Upanisad.
Zaman Brahmana ditandai dengan elaborasi ritual-ritual yang rumit. Zaman Aranyaka praktek meditasi pada simbol-simbol tertentu. Zaman Upanisad secara tegas menolak ritual yajna, sebaliknya menekankan pada aspek pengetahuan Atman (tattwa jnana) yang diyakini mampu membawa umat manusia mencapai tujuan tertinggi, yaitu moksa, bebas dari belenggu duniawi. Mengajarkan agar manusia mau meningkatkan kualitas kediriannya dari manusia yang bersifat bhuta menjadi manusia yang bersifat dewa.
Umat Hindu yang belum sampai pada pemikiran filsafat, Hindu Dharma memberikan kebebasan bagi umatnya untuk melakukan pemujaan sesuai dengan keyakinan dan kemampuan mereka masing-masing. Kata “Samskara” berasal dari bahasa sansekerta yang memiliki banyak arti, diantaranya yang erat kaitannyadengan pelaksanaan yadnya. Maka kata samskara berarti membudayakan, membiasakan, menyucikan, menjadikan sempurna, dan dapat pula berarti upacara keagamaan.


Samskara Hindu di Indonesia

 








1. Magedong- gedongan (Garbhadhana Samskara)
Upacara ini dilaksanakan pada saat kandungan berusia 7 bulan .
Sarana :
     1. Pamarisuda: Byakala dan prayascita.
     2. Tataban: Sesayut, pengambean, peras penyeneng dan sesayut pamahayu tuwuh.
3. Di depan sanggar pemujaan : benang hitam satu gulung kedua ujung dikaitkan pada dua dahan dadap, bambu daun talas dan ikan air tawar, ceraken (tempat rempah-rempah).


Waktu Upacara Garbhadhana dilaksanakan pada saat kandungan berusia 210 hari (7 bulan). Tidak harus persis, tetapi disesuaikan dengan hari baik. Tempat Upacara Garbhadhana dilaksanakan di dalam rumah, pekarangan, halaman rumah, di tempat permandian darurat yang khusus dibuat untuk itu, dan dilanjutkan di depan sanggar pemujaan (sanggah kamulan). Pelaksana Upacara ini dipimpin oieh Pandita, Pinandita atau salah seorang yang tertua (pinisepuh).

Tata Pelaksanaan :
1. lbu yang sedang hamil terlebih dahulu dimandikan (siraman) di parisuda, dilanjutkan dengan mabyakala dan prayascita.
2. Si lbu menjunjung tempat rempah-rempah, tangan kanan menjinjing daun talas berisi air dan ikan yang masih hidup.
     3. Tangan kiri suami memegang benang, tangan kanannya memegang bamboo runcing.
4. Si Suami sambil menggeser benang langsung menusuk daun talas yang dijinjing si Istri sampai air dan ikannya tumpah.
     5. Selanjutnya melakukan persembahyangan memohon keselamatan.
     6. Ditutup dengan panglukatan dan terakhir natab

2. Upacara kelahiran (Jatakarma Samskara).
Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan. Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si kecil di dunia.
Sarana :
1. Dapetan, terdiri dari nasi berbentuk tumpeng dengan lauk pauknya (rerasmen) dan buah buahan.
     2. Canang sari / canang genten, sampiyan jaet dan penyeneng.

Untuk menanam ari-ari (mendem ari-ari) diperlukan sebuah kendil (periuk kecil) dengan tutupnya atau sebuah kelapa yang airnya dibuang. Waktu Upacara Jatakarma dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan dan telah mendapat perawatan pertama.

Tempat Upacara Jatakarma dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah. Pelaksana Upacara kelahiran dilaksanakan atau dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan, demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya. Dalam hal tidak ada keluarga tertua, misalnya, hidup di rantauan, sang ayah dapat melaksanakan upacara ini.

Tata Cara :
1. Bayi yang baru lahir diupacarai dengan banten dapetan, canang sari, canang genten, sampiyan dan penyeneng. Tujuannya agar atma / roh yang menjelma pada si bayi mendapatkan keselamatan.
2. Setelah ari-ari dibersihkan, selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil lalu ditutup. Apabila mempergunakan kelapa, kelapa itu terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian, selanjutnya ditutup kernbali. Perlu diingat sebelum kendil atau kelapa itu digunakan, pada bagian tutup kendil atau belahan kelapa bagian atas ditulisi dengan aksara OM KARA (OM) dan pada dasar alas kendil atau bagian bawah kelapa ditulisi aksara AH KARA (AH) .
     3. Kendil atau kelapa selanjutnya dibungkus dengan kain putih dan di dalamnya diberi bunga.
4. Selanjutnya kendil atau kelapa ditanam di halaman rumah, tepatnya pada bagian kanan pintu ruangan rumah untuk anak Iaki-laki, dan bagian kiri untuk wanita bila dilihat dari dalam rumah.

Upacara ini merupakan cetusan rasa bahagia dan terima kasih dari kedua orang tua atas kelahiran anaknya, walaupun disadari bahwa hal tersebut akan menambah beban baginya.

Kebahagiaannya terutama disebabkan beberapa hal antara lain :
• Adanya keturunan yang diharapkan akan dapat melanjutkan tugas-tugasnya terhadap leluhur dan masyarakat.
     • Hutang kepada orang tua terutama berupa kelahiran telah dapat dibayar.

3. Upacara kepus puser
Upacara kepus puser atau pupus puser adalah upacara yang dilakukan pada saat puser bayi lepas.
Sarana :
     1. Banten penelahan: Beras kuning, daun dadap.
2. Banten kumara: Hidangan berupa nasi putih kuning, beberapa jenis kue, buahbuahan (pisang emas), canang, lengawangi, burat wangi, canang sari.
     3. Banten labaan: Hidangan/ nasi dengan lauk pauknya.
4. Segehan empat buah dengan warna merah, putih, kuning, dan hitam. Masingmasing berisi bawang, jahe dan garam.

Waktu Upacara kepus puser dilaksanakan pada saat bayi sudah kepus pusernya, umumnya pada saat bayi berumur tiga hari. Tempat Upacara ini dilaksanakan di dalam rumah terutama di sekitar tempat tidur si bayi. Pelaksana Untuk melaksanakan upacara ini cukup dipimpin oleh keluarga yang tertua (sesepuh), atau jika tidak ada, orang tua si bayi.

Tata Cara :
1. Puser bayi yang telah lepas dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan ke dalam "ketupat kukur" (ketupat yang berbentuk burung tekukur) disertai dengan rempah-rempah seperti cengkeh, pala, lada dan lain-lain, digantung pada bagian kaki dari tempat tidur si bayi.
     2. Dibuatkan kumara (pelangkiran) untuk si bayi, tempat menaruh sesajian.
3. Di tempat menanam ari-ari dibuat sanggah cucuk, di bawahnya ditaruh sajen segehan nasi empat warna, dan di sanggah cucuk diisi dengan banten kumara.
4. Tidak ada mantram khusus untuk upacara ini, dipersilakan memohon keselamatan dengan cara dan kebiasaan masing-masing.

4. Upacara bayi umur 12 hari (Upacara Ngelepas Hawon)
Setelah bayi berumur 12 hari dibuatkan suatu upacara yang disebut Upacara Ngelepas Hawon. Sang anak biasanya baru diberi nama (nama dheya) demikian pula sang catur sanak atau keempat saudara kita setelah dilukat berganti nama di antaranya: Banaspati Raja, Sang Anggapati, Banaspati dan Mrajapati.

     Sarana Upakara yang kecil : Peras, Penyeneng, Jerimpen tunggal dll, semampunya.
Upacara yang biasa (madia) : Peras, Penyeneng, Jerimpen tunggal, di sini hanya ditambah dengan penebusan.
Upacara yang besar : Seperti upacara madia hanya lebihnya jerimpen tegeh dan diikuti wali joged atau wayang lemah.

Waktu Upacara ngelepas hawon dilaksanakan pada saat si bayi sudah berumur genap 12 hari. Tempat Upacara ini dilaksanakan di dalam rumah pekarangan yaitu di sumur (permandian), di dapur, serta di sanggah kamulan. Pelaksana Untuk melaksanakan upacara ini dipimpin oieh keluarga yang paling dituakan.

Tata Cara :
Pelaksanaan upacara ini ditujukan kepada si ibu dan si anak. Upacaranya dilakukan di dapur, di permandian dan di kemulan berfungsi memohon pengelukatan ke hadapan Bhatara Brahma, Wisnu dan Siwa. Inti pokok upacara yang ditujukan :
Kepada si ibu adalah: banten byakaon dan prayascita disertai dengan tirta pebersihan dan pengelukatan.
Kepada si bayi adalah: banten pasuwungan yang terdiri dari peras, ajuman, daksina, suci. Soroan alit pengelukatan, dan lainnya.

Banten pengelukatan di dapur, permandian dan kemulan pada pokoknya sama, hanya saja warna tumpengnya yang berbeda. Yaitu:
     · tumpeng merah untuk di dapur
     · tumpeng hitam untuk di permandian dan
     · tumpeng putih untuk di kemulan.

Inti pokok banten pengelukatan tersebut antara lain: peras dengan tumpeng, ajuman, daksina, pengulapan, pengarnbian, penyeneng dan sorotan alit serta periuk tempat tirta pengelukatan.

5. Upacara kambuhan (umur 42 hari)
Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 42 hari. Tujuannya untuk pembersihan lahir batin si bayi dan ibunya, di samping juga untuk membebaskan si bayi dari pengaruh-pengaruh negative (mala).

Sarana Untuk upacara kecil:
     1. Upakara untuk ibu : Byakala, prayascita, tirtha panglukatan dan pabersihan.
     2. Upakara untuk si bayi : Banten pasuwungan, banten kumara dan dapetan.
Untuk upacara yang lebih besar
     1. Upakara untuk ibu : Byakala, prayascita, tirtha panglukatan dan pabersihan.
2. Upakara untuk si bayi : Banten pasuwungan, banten kumara, jejanganan, banten pacolongan untuk di dapur, di permandian dan di sanggah kamulan serta tataban.

Waktu Upacara kambuhan dilaksanakan pada saat bayi berusia 42 hari. Tempat Keseluruhan rangkaian upacara kambuhan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah, di dapur, di halaman rumah dan di sanggah kamulan. Pelaksana Untuk upacara kambuhan dipimpin oleh seorang pinandita atau pandita.

Tata cara Untuk upacara kecil:
     1. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita.
     2. Si bayi beserta kedua orang tua diantar ke sanggah kamulan untuk natab.
Tata Cara Untuk upacara yang lebih besar :
     1. Si bayi dilukat di dapur, di permandian, dan terakhir di sanggah kamulan.
     2. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita
     3 Si bayi beserta kedua orang tuanya natab di sanggah kamulan

Upacara Tutug Kambuhan (Upacara setelah bayi berumur 42 hari), merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dan kedua orang tuanya. Penyucian kepada si Bayi dimohonkan di dapur, di sumur/tempat mengambil air dan di Merajan/Sanggah Kemulan (Tempat Suci Keluarga). Upacara Tutug Sambutan (Upacara setelah bayi berumur 105 hari), adalah upacara suci yang tujuannya untuk penyucian Jiwatman dan penyucian badan si Bayi seperti yang dialami pada waktu acara Tutug Kambuhan. Pada upacara ini nama si bayi disyahkan disertai dengan pemberian perhiasan terutama gelang, kalung/badong dan giwang/subeng, melobangi telinga.

Upacara Mepetik merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dengan acara pengguntingan / pemotongan rambut untuk pertama kalinya. Apabila keadaan ubun-ubun si bayi belum baik, maka rambut di bagian ubun-ubun tersebut dibiarkan menjadi jambot (jambul) dan akan digunting pada waktu upacara peringatan hari lahir yang pertama atau sesuai dengan keadaan. Upacara Mepetik ini adalah merupakan rangkaian dari upacara Tutug Sambutan yang pelaksanaannya berupa 1 (satu) paket upacara dengan upacara Tutug Sambutan.

6. Upacara nelu bulanin (umur 3 bulan) - Niskramana Samskara
Upacara yang dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari, atau tiga bulan dalam hitungan pawukon.

     Sarana Upakara kecil: panglepasan, penyambutan, jejanganan, banten kumara dan tataban.
Sarana Upakara besar: panglepasan, penyambutan, jejanganan, banten kumara, tataban, pula gembal, banten panglukatan, banten turun tanah.



Waktu Upacara ini dilakukan pada saat anak berusia 105 hari. Bila keadaan tidak memungkinkan, misalnya, keluarga itu tinggal di rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh, upacara bisa ditunda. Biasanya digabungkan dengan upacara 6 bulan. Tempat Seluruh rangkaian upacara bayi tiga bulan dilaksanakan di lingkungan rumah. Pelaksana Upacara ini dipimpin oleh Pandita atau Pinandita.

Tata Cara :
     1. Pandita / Pinandita memohon tirtha panglukatan.
     2. Pandita / Pinandita melakukan pemujaan, memerciki tirtha pada sajen dan pada si bayi.
3. Bila si bayi akan memakai perhiasan-perhiasan seperti gelang, kalung dan lain-lain, terlebih dahulu benda tersebut diparisudha dengan diperciki tirtha.
4. Doa dan persembahyangan untuk si bayi, dilakukan oleh ibu bapaknya diantar oleh Pandita / Pinandita.
     5. Si bayi diberikan tirtha pengening (tirtha amertha) kernudian ngayab jejanganan.
     6. Terakhir si bayi diberi natab sajen ayaban, yang berarti memohon keselamatan.

7. Upacara satu oton - (Otonan)
Upacara yang dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu, sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna.

Sarana
Upakara kecil: Prayascita, parurubayan, jajanganan, tataban, peras, lis, banten pesaksi ke bale agung (ajuman) sajen turun tanah dan sajen kumara.
Upakara yang lebih besar: Prayascita, parurubayan, jejanganan, tataban, peras, lis, banten pesaksi ke bale agung (ajuman) sajen turun tanah, sajen kumara, ditambah gembal bebangkit.

Waktu Upacara wetonan dilaksanakan pada saat bayi berusia 210 hari. Pada saat itu kita akan bertemu dengan hari yang sama seperti saat lahimya si bayi (pancawara, saptawara, dan wuku yang sama). Selanjutnya boleh dilaksanakan setiap 210 hari, semacam memperingati hari ulang tahun. Tentu saja semakin dewasa, semakin sederhana bantennya.

Tempat Seluruh rangkaian upacara ini dilaksanakan di rumah. Pelaksana Upacara dipimpin oieh Pandita / Pinandita atau oleh keluarga tertua.

Tata cara:
1. Pandita / Pinandita sebagai pimpinan upacara melakukan pemujaan untuk memohon persaksian terhadap Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya.
     2. Pemujaan terhadap Siwa Raditya (Suryastawa).
     3. Penghormatan terhadap leluhur.
4. Pemujaan saat pengguntingan rambut (potong rambut). Ini dilakukan pertama kali, untuk wetonan selanjutnya tidak dilakukan.
     5. Pemujaan saat pawetonan dan persembahyangan.

8. Upacara tumbuh gigi (Ngempugin)
Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh dengan baik.

Sarana :
Upacara kecil : Petinjo kukus dengan telor.
Upacara besar : Petinjo kukus dengan ayam atau itik, dilengkapi dengan tataban.

Waktu Upacara ini dilaksanakan pada saat bayi tumbuh gigi yang pertama dan sedapat mungkin tepat pada waktu matahari terbit. Tempat Keseluruhan rangkaian upacara dilaksanakan di rumah. Pelaksana Upacara ini dipimpin oleh seorang pandita / pinandita atau salah seorang anggota keluarga tertua.

Tata Cara :
1. Pemujaan terhadap Hyang Widhi Wasa dengan mempersembahkan segala sesajen yang tersedia.
     2. Si bayi natab mohon keselamatan.
3. Selesai upacara si bayi diberikan sesajen tadi untuk dinikmatinya dan selanjutnya gusinya digosok-gosok dengan daging dari sesajen.

9. Upacara tanggalnya gigi pertama (Makupak)
Upacara ini bertujuan mempersiapkan si anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan.
Sarana :
     1. Banten byakala dan sesayut tatebasan.
     2. Canang sari.

Waktu Saat si anak untuk pertama kalinya mengalami tanggal gigi. Upacara ini dapat pula disatukan dengan wetonan berikutnya. Tempat Keseluruhan rangkaian upacara dilaksanakan di rumah. Pelaksana Upacara dipimpin oleh keluarga tertua.

Tata Cara :
     1. Pemujaan mempersembahkan sesajen kehadapan Hyang Widhi Wasa.
     2. Si anak bersembahyang.
     3. Setelah selesai sembahyang, dilanjutkan dengan natab sesayut / tetebasan.
     4. Si anak diperciki tirtha.

10. Upacara menek deha (Rajaswala)
Upacara ini dilaksanakan pada saat anak menginjak dewasa. Upacara ini bertujuan untuk memohon ke hadapan Hyang Samara Ratih agar diberikan jalan yang baik dan tidak menyesatkan bagi si anak.

Sarana :
Banten pabyakala, banten prayascita, banten dapetan, banten sesayut tabuh rah (bagi wanita), banten sesayut ngraja singa (bagi Iaki-laki), banten padedarian.

Waktu Upacara menginjak dewasa (munggah deha) dilaksanakan pada saat putra/ putrid sudah menginjak dewasa. Peristiwa ini akan terlihat melalui perubahan-perubahan yang nampak pada putra-putri. Misalnya pada anak Iaki-laki perubahan yang menonjol dapat kita saksikan dari sikap dan suaranya. Pada anak putri mulai ditandai dengan datang bulan (menstruasi) pertama.

Orang tua wajib melaksanakan upacara meningkat dewasa (munggah deha) ini. Tempat Upacara dilaksanakan di rumah. Pelaksana Dilakukan oleh Pandita / Pinandita atau yang tertua di dalam lingkungan keluarga.

Tata Cara :
Dalam upacara meningkat dewasa, pertama-tama putra / putri yang diupacarai terlebih dahulu mabyakala dan maprayascita. Setelah itu dilanjutkan dengan natab sesayut tabuh rah (bagi yang putri), sayut raja singa bagi yang putra.

Ciri-ciri anak telah meningkat dewasa.
Siklus kehidupan makhluk didunia adalah lahir, hidup dan mati (kembali keasalnya). Manusia hidup di dunia mengalami beberapa phase yaitu, fase anak-anak, pada fase ini anak dianggap sebagai raja, semua permintaannya dipenuhi. Phase berikutnya adalah pada masa anak meningkat dewasa. Saat ini anak itu tidak lagi dianggap sebagai raja, tetapi sebagai teman. Orang tua memberikan nasehat kepada anak-anaknya dan anak itu bisa menolak nasehat orang tuanya bila kondisi dan lingkungannya tidak mendukung, artinya terjadi komunikasi timbal balik atau saling melengkapi. Dan yang terakhir adalah phase tua, di sini anak tadi menjadi panutan bagi
penerusnya.

Sebagai tanda dari kedewasaan seseorang adalah suaranya mulai membesar /berubah/ngembakin (bahasa Bali) bagi laki-laki dan bagi perempuan pertama kalinya ia mengalami datang bulan. Sejak saat ini seseorang mulai merasakan getar-getar asmara, karena Dewa Asmara mulai menempati lubuk hatinya. Bila perasaan getar-getar asmara ini tidak dibentengi dengan baik akan keluar dari jalur yang sebenarnya.

Perasaan getar-getar asmara itu dibentengi melalui dua jalur yaitu, jalur niskala, membersihkan jiwa anak dengan mengadakan Upacara yang disebut Raja Sewala dan jalur sekala, dengan memberikan wejangan-wejangan yang bermanfaat bagi dirinya.

Upacara Raja Sewala ini sesuai dengan apa yang diungkapkan didalam Agastya Parwa bahwa, disebutkan ada tiga perbuatan yang dapat menuju sorga, yaitu: Tapa (pengendalian), Yadnya (persembahan yang tulus iklas) dan Kirti (perbuatan amal kebajikan) Upacara Raja Sewala merupakan Yadnya (persembahan yang tulus iklas) yang membuat peluang bagi keluarganya untuk masuk sorga.

Nilai pendidikan
Upacara Raja Sewala/meningkat dewasa yang dilakukan oleh umat Hindu adalah merupakan salah satu jenis Upacara Manusa Yadnya yang bertujuan untuk memohon kehadapan Sanghyang Widhi Waça (Tuhan Yang Maha Esa) dalam menifestasinya sebagai Sang Hyang Semara Ratih, agar orang itu dibimbing, sehingga ia dapat mengendalikan dirinya dalam menghadapi Pancaroba. Pada masa pancaroba ini seseorang sangat rentan terhadap godaan-godaan khususnya godaan dari Sad Ripu yaitu: Kroda (sifat marah), Loba (rakus/tamak), Kama (nafsu/keinginan), Moha (kebingungan), Mada (kemabukan), dan Matsarya (rasa iri hati).

Pada Upacara ini juga terselip nilai pendidikan. Anak diberikan wejangan-wejangan yang menyatakan bahwa dirinya telah tumbuh dewasa, apapun yang akan diperbuatnya akan berakibat juga kepada orang tuanya. Jadi anak itu tidak bebas begitu saja menerjunkan diri dalam pergaulan dimasyarakat. Dia harus tahu mana yang pantas untuk dilakukan dan mana yang dilarang. Dalam hal ini anak-anak juga merasa mendapat perhatian dari orang tuanya sehingga menimbulkan rasa lebih hormat kepada orang tuanya.

Melalui Upacara Raja Sewala/Meningkat dewasa ini diharapkan seseorang dapat meningkatkan kesucian pribadinya sehingga mampu memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

11.Upacara potong gigi (mepandes / metatah)
Upacara ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu yang ada pada diri si manak.
Sarana :
     1. Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang Widhi Wasa.
2. Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain untuk rurub serta sebuah cincin dan permata, tempat tidur yang sudah dihias.
     3. Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa gading dan sebuah bokor.
4. Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.
     5. Pengurip-urip yang terdiri dari kunyit serta pecanangan lengkap dengan isinya.

Waktu Upacara ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa, namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga. Tempat Seluruh rangkaian upacara potong gigi dilaksanakan di rumah dan di pemerajan. Pelaksana Upacara potong gigi dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita dan dibantu oleh seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).

Tata Cara :
     1. Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita.
     2. Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian.
3. Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah diperciki tirtha pesangihan.
     4. Upacara dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan peralatannya.
5. Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah, bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip.
6. Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kernudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya.

Acuan
Sumber sastra mengenai upacara potong gigi adalah lontar Kala Pati,kala tattwa, Semaradhana, dan sang Hyang Yama.dalam lontar kala Pati disebutkan bahwa potong gigi sebagai tanda perubahan status seseorang menjadi manusia sejati yaitu manusia yang berbudi dan suci sehingga kelak di kemudian hari bila meniggal dunia sang roh dapat bertemu dengan para leluhur di sorga Loka.Lontar Kala tattwa menyebutkan bahwa Bathara Kala sebagai putra Dewa Siwa dengan Dewi Uma tidak bisa bertemu dengan ayahnya di sorga sebelum taringnya dipotong. Oleh karena itu, manusia hendaknya menuruti jejak Bathara kala agar rohnya dapat bertemu dengan roh leluhur di sorga.dalam lontar Semaradhana disebutkan bahwa Bethara Gana sebagai putra Dewa Siwa yang lain dapat mengalahkan raksasa Nilarudraka yang menyerang sorgaloka dengan menggunakan potongan taringnya.

Selain itu disebutkan bahwa Bethara Gana lahir dari Dewi Uma setelah Dewa Siwa dibangunkan Dari tapa semadhinya oleh Dewa Semara (Asmara) namun kemudian Dewa Siwa menghukum Dewa Semara bersama istrinya, Dewi Ratih,dengan membakarnya sampai menjadi abu. kemudian menyebarkan abu tersebut ke dunia dan mengutuk manusia agar tidak bisa hidup tanpa berpasangan (laki-perempuan) dalam suami istri. Dalam lontar Sang Hyang yama disebutkan bahwa upacara potong gigi boleh dilaksanakan bila naka sudah menginjak dewasa, ditandai dengan menstruasi untuk wanita dan suara yang membesar untuk pria. Biasanya hal ini muncul di kala usia 14 tahun.

Tujuan Upacara Potong Gigi
Tujuan upacara potong gigi dapat disimak lebih lanjut dari lontarkalapati dimana disebutkan bahwa gigi yang digosok atau diratakan dari gerigi adalah enam buah yaitu dua taring dan empat gigi seri di atas. Pemotongan enam gigi itu melambangkan symbol pengendalian terhadap sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia). Meliputi kama (hawa nafsu), Loba (rakus), Krodha (marah), mada (mabuk), moha (bingung), dan Matsarya (iri hati). Sad Ripu yang tidak terkendalikan ini akan membahayakan kehidupan manusia, maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati anak-anaknya serta memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh sad ripu.Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, kala Tattwa, dan Semaradhana ini adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya dapat yang suci dapat mencapai surge loka bersama roh suci para leluhur, bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi).Dalam pergaulan mudamudi pun diatur agar tidak melewati batas kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar
Semaradhana.

Upacara potong gigi biasanya disatukan dengan upacara Ngeraja Sewala atau disebutkan pula sebagai upacara “menek kelih”, yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak dewasa,meninggalkan masa anak-anak menuju ke masa dewasa.

Urutan Upacara :
1. Setelah sulinggih ngarga tirta,mereresik dan mapiuning di Sangah Surya,maka mereka yang akan mepandes dilukat dengan padudusan madya,setelah itu mereka memuja Hyang raitya untuk memohon keselamatan dalam melaksanakan upacara.
2. Potong rambut dan merajah dilaksanakan dengan tujuan mensucikan diri serta menandai adanya peningkatan status sebagai manusia yaitu meningalkan masa anak-anak ke masa remaja.
3. Naik ke bale tempat mepandes dengan terlebih dahulu menginjak caru sebagai lambing keharmonisan,mengetukkan linggis tiga kali (Ang,Ung,Mang) sebagai symbol mohon kekuatan kepada Hyang Widhi dan ketiak kiri menjepit caket sebagai symbol kebulatan tekad untuk mewaspadai sad ripu.
4. Selama mepandes,air kumur dibuang di sebuah nyuh gading afar tidak menimbulkan keletehan.
5. Dilanjutkan dengan mebiakala sebagai sarana penyucian serta menghilangkan mala untuk menyongsong kehidupan masa remaja.
6. Mapedamel berasal dari kata “dama” yang artinya bijaksana.Tujuan mapedamel setelah potong gigi adalah agar si anak dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana,yaitu tahap menghadapi suka duka kehidupan,selalu berpegang pada ajaran agama Hindu,mempunyai pandangan luas,dan dapat menentukan sikap yang baik, karena dapat memahami apa yang disebut dharma dan apa yang disebut adharma.Secara simbolis ketika mepadamel,dilakukan sebagai berikut :
• Mengenakan kain putih,kampuh kuning,dan selempang samara ratih sebagai symbol restu dari Dewa Semara dan Dewi Ratih (berdasarkan lontar Semaradhana tersebut).
• Memakai benang pawitra berwarna tridatu (merah,putih,hitam) sebagai symbol pengikatan diri terhadap norma-norma agama.
• Mencicipi Sad rasa yaitu enam rasa berupa rasa pahit dan asam sebagai simbol agar tabah menghadapi peristiwa kehidupan yang kadang-kadang tidak menyenangkan, rasa pedas sebagai simbol agar tidak menjadi marah bila mengalamai atau mendengar hal yang menjengkelkan, rasa sepat sebagai symbol agar taat ada peraturan atau norma-norma yang berlaku, rasa asin sebagai simbol kebijaksanaan, selalu meningkatkan kualitas pengetahuan karena pembelajaran diri, dan rasa manis sebagai symbol kehidupan yang bahagia lahir bathin sesuai cita-cita akan diperoleh bilamana mampu menhadapi pahit getirnya kehidupan, berpandangan luas, disiplin, serta enantiasa waspada dengan adanya sad ripu dalam diri manusia.

7. Natab banten,tujuannya memohon anugerah Hyang Widhi agar apa yang menjadi tujuan melaksanakan upacara dapat tercapai.
8. Metapak,mengandung makna tanda bahwa kewajiban orang tua terhadap anaknya dimulai sejak berada dalam kandungan ibu sampai menajdi dewasa secara spiritual sudah selesai,makna lainnya adalah ucapan terima kasih si anak kepada orang tuanya karena telah memelihara dengan baik,serta memohon maaf atas kesalahan-kesalahan anak terhadap orang tua,juga mohon doa restu agar selamat dalam menempuh kehidupan di masa datang.

Demikianlah sekilas makna dari upacara potog gigi atau mepandes.Istilah lainnya yang digunakan untuk Upacara ini di Bali adalah mesangih.

12. Upacara Perkawinan (Pawiwahan / Wiwaha)
Hakekatnya adalah upacara persaksian ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri sebagai suami-istri.

Sarana
     1. Segehan cacahan warna lima.
     2. Api takep (api yang dibuat dari serabut kelapa).
     3. Tetabuhan (air tawar, tuak, arak).
     4. Padengan-dengan/ pekala-kalaan.
     5. Pejati.
     6. Tikar dadakan (tikar kecil yang dibuat dari pandan).
7. Pikulan (terdiri dari cangkul, tebu, cabang kayu dadap yang ujungnya diberi periuk, bakul yang berisi uang).
     8. Bakul.
     9. Pepegatan terdiri dari dua buah cabang dadap yang dihubungkan dengan benang putih.

Waktu Biasanya dipilih hari yang baik, sesuai dengan persyaratannya (ala-ayuning dewasa). Tempat Dapat dilakukan di rumah mempelai Iaki-laki atau wanita sesuai dengan hokum adat setempat (desa, kala, patra). Pelaksana Dipimpin oleh seorang Pendeta / Pinandita / Wasi / Pemangku.

Tata cara
1. Sebelum upacara natab banten pedengan-dengan, terlebih dahulu mempelai mabhyakala dan maprayascita.
2. Kemudian mempelai mengelilingi sanggah Kamulan dan sanggah Pesaksi sebanyak tiga kali serta dilanjutkan dengan jual beli antara mempelai Iaki-laki dengan mempelai wanita disertai pula dengan perobekan tikar dadakan oleh mempelai Iaki-laki.
3. Sebagai acara terakhir dilakukan mejaya-jaya dan diakhiri dengan natab banten dapetan. Bagi Umat Hindu upacara perkawinan mempunyai tiga arti penting yaitu :
- Sebagai upacara suci yang tujuannya untuk penyucian diri kedua calon mempelai agar mendapatkan tuntunan dalam membina rumah tangga dan nantinya agar bisa mendapatkan keturunan yang baik dapat menolong meringankan derita orang tua/leluhur.
- Sebagai persaksian secara lahir bathin dari seorang pria dan seorang wanita bahwa keduanya mengikatkan diri menjadi suami-istri dan segala perbuatannya menjadi tanggung jawab bersama.
- Penentuan status kedua mempelai, walaupun pada dasarnya Umat Hindu menganut sistim patriahat (garis Bapak) tetapi dibolehkan pula untuk mengikuti sistim patrilinier (garis Ibu). Di Bali apabila kawin mengikuti sistem patrilinier (garis Ibu) disebut kawin nyeburin atau nyentana yaitu mengikuti wanita karena wanita nantinya sebagai Kepala Keluarga.

Upacara Pernikahan ini dapat dilakukan di halaman Merajan/Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga) dengan tata upacara yaitu kedua mempelai mengelilingi Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ) sampai tiga kali dan dalam perjalanan mempelai perempuan membawa sok pedagangan ( keranjang tempat dagangan) yang laki memikul tegen-tegenan (barang-barang yang dipikul) dan setiap kali melewati “Kala Sepetan”(upakara sesajen yang ditaruh di tanah) kedua mempelai menyentuhkan kakinya pada serabut kelapa belah tiga.

Setelah tiga kali berkeliling, lalu berhenti kemudian mempelai laki berbelanja sedangkan mempelai perempuan menjual segala isinya yang ada pada sok pedagangan (keranjang tempat dagangan), dilanjutkan dengan merobek tikeh dadakan (tikar yang ditaruh di atas tanah), menanam pohon kunir, pohon keladi (pohon talas) serta pohon endong dibelakang sanggar pesaksi/sanggar Kemulan (Tempat Suci Keluarga) dan diakhiri dengan melewati "Pepegatan" (Sarana Pemutusan) yang biasanya digunakan benang didorong dengan kaki kedua mempelai sampai benang tersebut putus.



Samskara Hindu di India









1. Wiwaha Samskara merupakan upacara perkawinan untuk memasuki tingkat hidup grihastha asrama, dengan tujuan untuk melanjutkan garis keturunan dan memenuhi kewajiban secara sempurna. Pelaksanaan Wiwaha Samskara harus bersaksi kepada Sang Hyang Widhi Wasa melalui agni homa atau semacam widhi wedana sehingga kedua mempelai dianggap bersih jasmani dan rohaninya, selanjutnya dapat hidup sah sebagai suami istri baik secara duniawi maupun spiritual.

2. Garbhadhana Samskara merupakan upacara persembahyangan pembenihan pertama sebagai sakramen atau pembersihan terhadap kama-jaya dan kama-ratih yaitu benih laki-laki yang disebut sukla (sperma) dan benih mempelai wanita yang disebut swanita (ovum) secara rohaniah, dengan harapan apabila terjadi pembuahan dan menjadi janin maka roh yang akan menjelma adalah roh yang baik dan suci.

3. Pumsawana Samskara merupakan upacara untuk memohon putra, yang biasanya dilakukan setelah umur kandungan mencapai tiga bulan. Upacara ini dilakukan mengingat kelahiran seorang putra mempunyai arti tersendiri dalam keluarga Hindu yaitu untuk membebaskan orang tuanya dari lembah kesengsaraan. Pada keluarga Hindu di Bali terdapat pula upacara semacam ini yang disebut dengan upacara “Magedong-gedongan” tetapi bedanya, upacara magedong-gedongan ini dilakukan setelah umur kandungan mencapai enam bulan atau lebih. Upacara ini bertujuan sebagai pembersihan dan pemeliharaan atas keselamatan ibu dan kandungannya, disertai harapan agar anak yang akan lahir kelak menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dan dapat memberi harapan orangtuanya.


4. Jatakarma Samskara merupakan upacara kelahiran bayi dengan maksud menyampaikan rasa syukur (angayu bagia) kepada Sang Hyang Widhi Wasa, dan memohon anugerah-Nya agar bayi itu selalu berada dalam keadaan selamat. Beberapa hari setelah bayi lahir, juga diadakan acara lepas aon atau puput puser yang bermakna membersihkan jasmani si bayi.


5. Namadheya Samskara merupakan upacara pemberian nama bayi yang dilakukan pada hari ke sepuluh atau hari ke dua belas setelah bayi lahir. Pemberian nama menurut kepercayaan Hindu harus benar-benar mempunyai makna, misalnya diberi nama yang yang mengandung arti kesucian, kekuatan, kemakmuran, kepuasan, dan lain-lain dengan harapan agar kelak anak itu memiliki sifat dan karma sesuai dengan makna namanya.


6.Nishkramana Samskara merupakan upacara yang dilakukan setelah anak itu mencapai umur 105 hari (3 bulan bali/kalender Hindu) sebagai simbol penjemputan atma/jiwa bayi agar benar-benar memberi hidup yang membahagiakan. Saat itu merupakan hari pertama bayi untuk berhubungan dengan kekuatan-kekuatan alam atau kontak dengan dunia luar.

7. Annaprasana Samskara merupakan upacara pemberian makanan yang pertama kali yaitu pada waktu umur anak mencapai 7 bulan (6 bulan Bali) di mana anak yang diupacarai ditanakan nasi lembek berisi telur ayam, kemudian di pagi-pagi buta anak itu diturunkan ke tanah (menginjak tanah).

8. Caudakarma Samskara merupakan upacara potong rambut yang pertama, biasanya dilakukan pada waktu anak berumur antara satu sampai tiga tahun. Rambut di bagian ubun-ubun tiak dipotong (disisakan sebagai jambot). Namun dewasa ini kebiasaan seperti ini sudah pudar dan anak-anak dicukur biasa saja, ubun-ubun masih tetap terlindung. Di dalam kitab Manu Smerti dikatakan bahwa upacara ini dimaksudkan untuk memperoleh kebajikan spiritual bagi anak itu.



9. Upanayana Samskara merupakan suatu upacara untuk mulai bersekolah dalam batas umur panjang awal 5 tahun dan paling lambat 12 tahun. Masa belajar ini disebut dengan Brahmacari asrama. Upacara yang sejenis dengan upanayana samskara yang biasa dilakukan oleh orang-orang Bali dan Jawa yang beragama Hindu adalah upacara “Pawintenan” yang berfungsi sebagai pembersihan diri dalam rangka mempelajari ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan keagamaan. Sedangkan upacara pawintenan yang lebih besar (untuk menjadi pendeta) disebut “Diksa Widhi”.

10. Sawitri Samskara merupakan upacara pemberian ilmu oleh seorang guru kepada murid-muridnya sebagai awal dimulainya pemberian pelajaran. Upacara ini merupakan bagian dari Brahmacari asrama.


Itulah kesepuluh bagian samskara yang biasanya paling sering dilaksanakan oleh umat Hindu. Pelaksanaan samskara tersebut akan disesuaikan dengan kondisi keluarga dan daerah tempat tinggal. Selain ksepeluh macam samskara di atas juga terdapat beberapa jenis samskara lainnya seperti :

1.   Simantonnayana secara harfiah berarti berpisah dengan rambut). Upacara ini  dilakukan pada bulan keempat atau kelima kehamilan pertama seorang wanita. Simantonnayana dilakukan untuk melindungi ibu pada masa kritis kehamilan. Samskara ini dilakukan untuk memohon perlindungan bagi ibu dan bayi yang belum lahir serta mengusir setan dan roh yang mungkin ingin membahayakan ibu dan bayinya, serta untuk memastikan kesehatan keduanya dalam keadaan baik, keberhasilan dan kemakmuran bagi anak yang belum lahir.


2. Karnavedha  yang secara harfiah berarti  menusuk telinga. Pada masyarakat tradisional biasanya hal ini dilakukan dengan menggunakan duri tertentu. Setelah itu mentega dioleskan pada luka. Hal ini berlaku untuk baik utnuk  anak laki-laki maupun perempuan.

3. Vidyarambhana atau pendidikan awal. Vidya adalah pengetahuan dan arambhana ini dimulai. Hal ini biasanya dilakukan sekitar usia empat atau lima tahun.

4. Praishartha atau Vedarambha adalah proses pembelajaran Weda dan Upanishad. Pada awal setiap periode akademik ada upacara yang disebut Upakarma dan pada akhir setiap periode akademik ada lagi upacara yang disebut Upasarjanam. Tetapi samskara ini biasanya jarang ditemui pada masyarakat Hindu pada umumnya, dan lebih sering diterapkan pada keluarga brahmana.

5. Keshanta secara harfiah berarti menyingkirkan rambut adalah upacara mencukur rambut yang pertama. Upacara ini bagi anak di usianya yang ke 16 tahun.

6. Ritusuddhi adalah upacara yang berhubungan dengan proses menstruasi pertama pada seorang gadis.

7.  Samavartana berarti wisuda adalah upacara yang berhubungan dengan akhir pendidikan formal.  Upacara ini menandai akhir dari masa menuntut ilmu. Hal ini juga menandai akhir dari masa brahmacari.




Umat hindu di Indonesia melakukan upacara ngaben, nyepi dan potong gigi sementara di india upacara ngaben di sebut dengan upacara antyesthi berarti sebagai pemakaman dan orang yang sudah meningal juga dibakar seperti upacara ngaben di Indonesia sementara nyepi dan potong gigi tidak ada di India. Tujuan samskara di Indonesia dan India sama misalnya memohon kelahiran anak yang selamat, memohon anak agar menjadi anak yang baik, memohon agar kepintaran tercapai ke pikiran kita dan lain lainnya . perbedaanya yaitu: saat upacara ngaben/antyesthi di India tidak ada jampana sementara di India orang yang sudah meningall digletakan di kayu dan langsung dibakar (cremation). Pakaian sembahyang di india juga beda, mereka tidak memakai udeng atau kebaya, sementara mereka memakai kain india dan baju putih yang panjang. Sarana upacara mereka tidak menggunakan makhluk hidup seperti telur, daging ayam sebagaimana banten di Bali, dan kebanyakan mereka memakai bunga merah dan putih. Di india mereka tidak memakai bije tetapi mereka mamakai abu merah atau putih di dahi mereka.


kesimpulan


Baik Hindu Indonesia  Hindu India mempunyai jenis jenis samskara mulai dari bayi dalam kandungan hingga meninggal tujuan dan sarana utama dalam melaksanakan ritual samskara adalah sama hanya cara pelaksanaanya yang berbeda disesuaikan dengan budaya dan adat istiadat setempat.











Selasa, 25 Agustus 2015

Siswa Madania tahun ajaran 2015-2016

Om Swastyastu,

Saat ini kisah Mahabharata sementara tayang di  ANTV, membuat anak-anak mengenal lebih dekat Ithiasa dari kitab Weda. Demikian pula anak-anak Madania sangat menyukai tayangan ini. Bravo untuk ANTV. Kedua sloka di bawah ini pun dapat dengan mudah dihafal oleh anak-anak Madania.

Bhagavadgita Bab IV,7
Yada yada hi dharmasya, Glanir bhavathi bharatha,
Abhyutanam Adharmasya, Tadatmanam srijami aham.

Artinya:
Manakala dharma merosot dan adharma merajalela Oh Bharata
ketika itulah aku sendiri yang turun ke dunia.

Bhagavadgita Bab IV,8
Paritranaya sadhunam, Vinashaya Cha Dushkritam,
Dharma sansthapanartaya, Sambhavami yuge-yuge.
 
Artinya:

Untuk melindungan orang-orang baik dan memusnahkan orang jahat
maka Aku (Krishna/Tuhan) sendiri yang lahir dari masa ke masa.

tidak hanya sloka di atas bahkan Bhagavadgita Bab I sloka 1-10 dan bab II sloka 1-12  pun anak-anak Madania dapat menghafal dan mengerti artinya.

Adapun siswa Madania saat ini adalah:
1.   Shivangi Garg
2.   Komang Aidashivarya Sadira
3.   Kadek Aidanargya Rasida
4.   Ni Wayan Nindya Dewi Ardhyarani
5.   Ayu Dhyana Jayanti Sai Savitri
6.   I Made Purna Widya Sai Ananda
7.   Dewa Ayu Ratnadia Divyani
8.   I Gede Aidantha Sidra
9.   Made Ayu Gitagayatri
10. Made Agustha Intaran Sukma

Anak-anakku semangatlah salalu membaca dan memahami kitab Bhagavadgita.  Selamat belajar.

Om Santi, Santi, Santi Om

Jumat, 15 Maret 2013

Display Siswa-Siswi Madania


Display by Putra and Prita


1.     Display Ara: Sad Ripu (7Y)


Sad Ripu adalah 6 musuh dalam diri yang harus dikendalikan. Sifat-sifat itu adalah Kama (keinginan), Lobha (rakus), Krodha (marah), Mada (mabuk), Moha (kebingungan), danMatsarya (iri hati).
Pekerjaan ini dibuat oleh siswa Hindu Madania bernama Made Agustha Intaran Sukma (Ara), pada tanggal 8 Oktober 2009,  yang pada saat itu masih duduk di kelas 7Y – Semester 1.

2.     Display Prita :NawaDewata (8R)


Nawa Dewata artinya Sembilan manifestasi Sanghyang Widhi sebagai penguasa 9 penjuru dunia. Nama dewata tersebut adalah Dewa Iswara (timur), Dewa Mahadewa (barat), Dewa Brahma (selatan), Dewa Rudra (baratdaya), Dewa Mahesvara (tenggara), Dewa Sankara (barat laut), Dewa Visnu (utara), Dewa Shambu (timur laut), dan Dewa Siva (tengah). 
Display ini dibuat oleh Putu Ayu Pritarianti, salah satu siswi Hindu Madania, pada tanggal 13 Oktober 2008, yang saat itu kelas 8R – Semester 1.

3.     Display Icha: Panca Sembah (6F)


Panca Sembah adalah lima jenis sembah yang dilakukan pada saat memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa. Panca Sembah biasanya dilakukan setelah Puja Tri Sandya.
Display yang dibuat pada tanggal 2 Maret 2012, karya Made Ayu Gitagayatri (Icha) ini menulis kan semua mantra Panca Sembah mulai dari muspa puyung yang pertama, muspa dengan Bunga putih, lalu muspa dengan kwangen 1, dilanjutkan  lagi muspa dengan kwangen yang ke- 2, dan ditutup dengan muspa puyung.

4.     Display Icha: Tri Murti (2I)


Tri Murti adalah 3 perwujudan/manifestasi dari Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Brahma (pencipta), Visnu (pemelihara),  Siva (Pelebur).
Display Tri Murti yang dibuatoleh Made Ayu Gitagayatri (Icha) pada saat ia masih duduk di kelas 2I, menjelaskan tugas dari 3 Dewa tersebut, saktinya, dan aksara dari masing-masing dewa. 

5.     Display Putra: Sapta Timira (9S)


Display ini dibuat oleh Komang Putra Setiawan pada tahun 2009-2010 ketika ia berada di kelas 9 SMP.
Display ini berisi tentang Sapta Timira yang berarti tujuh hal yang bisa membuat orang mabuk. Ketujuh hal tersebut adalah; Surupa (mabuk karena ketampanan atau kecantikan), Kulina (mabuk karena kebangsawanan), Dhana (mabuk karena harta/uang), Sura (mabuk karena minuman keras), Guna (mabuk karena kepintaran), Kasuran (mabuk karena keberanian), dan Yowana (mabuk karena keremajaan).
Surupa artinya wajah yang tampan atau cantik. Kulina artinya keturunan atau asal-usul. Dhana artinya kekayaan atau harta. Sura artinya keberanian, dan Yowana artinya masa muda.

6.     Display Putra: Kepemimpinan (10W)


Display ini dibuat oleh Komang Putra Setiawan pada tahun ajaran 2010-2011 ketika dia berada di kelas 10 SMA.
Display ini menceritakan tentang kepemimpinan. Ilmu kepemimpi dalam ajaran Hindu disebut Nitisastra. Nitisastra berisi tentang Catur Kotamaning Nrpati, Tri Upaya Sandhi Tipe-tipe kepemimpinan, dan kepemimpinan yang  ideal menurut Hindu.
Catur Kotamaning Nrpati artinya empat sifat yang perlu dimiliki seorang pemimpin yang terdiri dari Jnana Wisesa Sudha yang artinya pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luhur dan suci, dan Kaprahitang Praja yang artinya pemimpin harus mempunyai rasa belaskasihan pada rakyatnya.




7.     Display Prita: Kepemimpinan (11A)

Karya ini dibuat oleh Putu Ayu Pritarianti pada tanggal 1 Juni 2012, saat Semester 1 di kelas 11A.
Display ini menjelaskan tentang Pengertian kepemimpinan hindu, lalu tujuan dari seorang pemimpin, dan asas-asasnya seperti Panca Dasa Pramiteng Prabu (15 pedoman seorang pemimpin Hindu), Sad Warnaning Raja Niti (6 corak yang dimiliki oleh seorang pemimpin), Panca Upaya Sandhi (5 upaya seorang pemimpin untuk memecahkan masalah), dan Nawa Natya (9 sifat teguh seorang pemimpin yang  bersusila).  
Saat duduk di kelas 10, mereka juga mempelajari kepemimpinan, tetapi dengan pembahasan yang berbeda. Seperti yang ada di display yang dibuatoleh Putra, isi display dari Putra hanya membahas tentang ilmu, tipe dari seorang pemimpin, dan bagaimana menjadi pemimpin yang ideal. Di kelas 11 ini, diajarkan juga asas dan tujuan dari seorang pemimpin.

8.     Display Prita: Sejarah Agama Hindu (10D)


Display ini dibuat oleh Putu Ayu Pritarianti (Prita), saat berada di kelas 10D, pada tanggal 6 Juni 2011
Sejarah Agama Hindu dimulai di India. Wahyu yang diturunkan oleh Tuhan/Brahman/Ida SanhHyang Widhi Wasa, langsung diterima oleh para Sapta Rsi. Dari para Sapta Rsi, turunkan lagi/diterjemahkan lagi oleh Rsi Wyasa beserta 4 muridnya yaitu Rsi Pulaha, Rsi Jaimini, Rsi Waysampayana, dan Rsi Sumantu. Setelah itu barulah dibaca oleh umat Hindu sebagai Kitab Suci Veda.
Di dalam display ini ada penjelasan lengkap Hindu di India, berikut dengan 3 jaman yang berbeda, dan ada juga Hindu di Negara Lain seperti Mesir, Mexico, Peru, California, dan Australia. Ada juga kutipan dari Buku Pelajaran Agama Hindu untuk kelas X.

9.     Display Prita: SaptaTimira (10D)


Display ini dibuat oleh Putu Ayu  Pritarianti, saat berada di kelas 10D, dibuat pada tanggal 7 Oktober 2009.
Sapta Timira adalah 7 perbuatan yang memabukkan dan harus dikendalikan. Isi dari display ini sama dengan display yang dibuat oleh Putra saat dikelas 10D juga, hanya saja dengan design yang berbeda.

10.    Display Prita: Sradha: Sifat-sifat Tuhan (7A)


Display ini dibuat oleh Putu Ayu  Pritarianti pada bulan Juli-Agustus 2007 saat berada di kelas 7A - Semester 1.
Pada bab Sraddha ini belajar tentang sifat-sifat Tuhan, yaitu Cadhu Sakti (4 KemahakuasaanTuhan) dan Asta Aiswarya (8 sifat KeagunganTuhan).
Isi dari display ini menjelaskan bagian dan arti dari Cadhu Sakti dan Asta Aiswarya beserta contohnya.
Bagian dari Cadhu Sakti adalah Jnana Sakti (Maha Tahu), Prabhu Sakti (Maha Kuasa), Krya Sakti (Maha Karya), dan Wibhu Sakti (Maha Ada), sedangkan bagian dari Asta Aiswarya adalah Prapti (ada dimana-mana), Prakamya (segala keinginannya bisa tercapai), Isitwa (maha kuasa dan paling utama), Yatra Kama Wasayitwa (maha kuasa, segala kehendaknya tidak bisa di tentang), Laghima (Tuhan menganmbil wujud seringan-ringannya), Mahima (Tuhan mengambil wujud sebesar-besarnya), Anima (Tuhan menambil wujud sekecil-kecilnya), dan Wasitwa (bisa mengatasi segala rintangan dan hambatan).

11.    Display Ara: Tempat Suci, Pura Tri Bhuana Agung–Depok  (7Y)


Display ini dibuat oleh Made Agustha Intaran Sukma, pada tanggal 9 Februari 2010. Pada saat  ia duduk dikelas 7Y
Didalam display ini Ara memilih Pura Tri Bhuana Agung Depok (Jl, Kerinci Raya, DepokTimur) sebagai penjelasan mengenai tempat suci agama hindu, yaitu Pura. Ia memotret bagian bagian dari pura, lalu melebelnya.

12.    Display Prita: Nawa Dewata (8R)


Display ini dibuat oleh Prita pada tahun ajaran 2008-2009 ketikadiaberada di kelas 8 SMP.
Isi display ini adalah tentang Nawa Dewata. Nawa Dewata adalah 9 manifestasi Sanghyang Widhi sebagai penguasa 9 penjuru dunia. Bagian dari Nawa Dewata adalah: Dewa Iswara (Timur), Dewa Mahadewa (Barat), Dewa Brahma (Selatan), Dewa Rudra (Barat Daya), Dewa Mahesora (Tenggara), Dewa Sankara (Barat Laut), Dewa Visnu (Utara), Dewa Shyambu (Timur Laut), dan Dewa Siva (Tengah).  Pada display ini juga terdapat time table agar pembaca bisa mengetahui warna,  sakti,  senjata, dan lain sebaginya berkaitan dengan Nawa Dewata.

13.    Display Ara: Avatara (9Y)


Display ini dibuat oleh Made Agustha I.S. pada tahun ajaran 20011-2012 ketika ia berada di kelas 9 SMP.
Isi dari display ini adalah Deva, Bhatara, dan Avatara. Dewa artinya sinar suci dari Hyang Widhi sedangkan Bhatara artinya pendukung, pelindung, dan pemimpin. Avatara adalah reinkarnasi Dewa Visnu turun ke dunia manakala Adharma merajalela di bumi. Ada 10 Avatara yang terdiri dari: Matsya Avatara, KurmaAvatara, Waraha Avatara, Narashima Avatara, Wamana Avatara, Parasurama Avatara, Rama Avatara, Krishna Avatara, Buddha Avatara,  dan Kalki Avatara.

14.    Display Ara: Catur Guru (5P)

Display ini dibuat oleh Made Agustha Intaran Sukma pada tahun ajaran 2007-2008 saat dia duduk dikelas 5 SD.
Display ini berisi tentang Catur Guru. Catur Guru adalah empat jenis guru yang harus kita hargai, seperti: Guru Rupaka (Orang Tua), Guru Pengajian (guru di sekolah), Guru Wisesa (pemimpin negara, polisi, tentara), dan Guru Swadyaya (Tuhan, Ida Sang Hyang WidhiWasa, Dewa – Dewi).

15.    Display Prita: Perhitungan Hari Suci (7A, Semester II)

Display ini dibuat oleh Putu Ayu  Pritarianti pada saat kelas 7, Semester II.
Perhitungan hari suci ini terbagi menjadi dua, ada yang berdasarkan sasih dan ada yang berdasarkan wuku. Ada juga cara menghitung hari suci dengan menggunakan telapak tangan. Pada display ini tertulis juga 30 Wuku, Sapta Wara, dan Panca Wara.

Selasa, 29 Januari 2013

Refleksi Siswa

APA YANG SAYA DAPAT DI AGAMA HINDU MADANIA 
BY: Made Agustha Intaran Sukma 10D 
Saya sudah bersekolah di Madania kurang lebih 6 tahun, saya masuk saat saya menginjak kelas 4 SD. Di Madania Agama Hindu sangat difasilitasi dengan ruangan yang nyaman, tempat sembahyang, juga guru Agama Hindu bernama bu Ayu. 
Pertama kali saya mengikuti acara gathering, saya orang yang sangat pemalu, saya hanya duduk diam, sampai kakak-kakak kelas mengajak saya untuk bermain bersama, mulai saat itu saya mulai lebih percaya diri. 
Akademik saya tidak terlalu jelek namun tulisan saya di display saat kelas 4 SD sangatlah berantakan dan sangat besar sehingga saya selalu disuruh menulis dengan baik. Inilah masa dimana saya pertama kali membuat poster dengan materi (Tri Sarira), dimana tulisan saya masih sangat berantakan. 
Simpulan yang saya dapat dari pelajaran Agama Hindu di Madania adalah saya belajar Agama tidak dari pandangan materi saja, namun diajarkan untuk menjadi seseorang yang akan sukses dan berjiwa besar dengan karakter yang baik serta bangga menganut Agama Hindu. Di Madania ini juga kita terus melakukan persembahyangan saat gathering dengan dipilihnya pemimpin sembahyang bertujuan agar kita bisa menjadi pemimpin kelak nanti. 

Refleksi Siswa

Yang Saya Dapat dari Agama Hindu Madania 
 Made Ayu Gitagayatri 7K 
Setelah 6 tahun belajar Agama Hindu bersama guru tercinta Ibu Ayu, (kelas 1-6) saya mendapatkan bahwa pelajaran Agama Hindu sangatlah menarik untuk dipelajari. Tidak hanya belajar Agama Hindu, dalam waktu 6 tahun itu aku juga diajari banyak hal diluar Agama Hindu. Ibu Ayu mengajari saya menulis melalui media belajar display berjudul ‘ciptaan tuhan dan ciptaan manusia’ saat saya masih kelas 1. Walaupun saat itu tulisanku masih sangat berantakan dan bisa dibilang naik turun gunung, tetapi aku tetap menghargai diriku sendiri karena sudah bisa membuat display. Ibu Ayu juga tidak lupa mengajarkanku membaca. Tetapi kali ini Ibu Ayu mengajarkanku membaca dengan cara menyuruh aku membaca buku-buku Agama Hindu yang tidak terlalu sulit untuk dibaca oleh anak seumuranku (kelas 1). Selain membantuku belajar membaca dan menulis Ibu Ayu juga membantu aku dalam meningkatkan nilai matematika atau yang lebih sering aku sebut degan math. Saat kelas 6 nilai matematika saya sangat menurun. Untuk mempersiapkan UN dengan baik maka Ibu Ayu mengajarkanku math saat ada sisa waktu setelah belajar Agama Hindu atau saat Gathering. Aku juga sangat senang bisa mendapatkan kesempatan bersekolah di Madania. Selain karena teman-teman yang baik juga karena ruangan Agama Hindu yang selalu mengundang kita untuk datang kesana lagi dan lagi. Aroma dupa di ruangan Agama Hindu banyak membuat guru-guru dan murid-murid madania yang datang kesana menjadi sangat nyaman dan terkadang membuat ngantuk. Salah satu murid madania yang selalu nyaman di ruangan hindu adalah aku. Selain ruangannya, lingkungan sekitar ruangan Agama Hindu Agama Hindu juga sangat menyenangkan dan seru. Kakak kelas yang ada bersikap baik terhadap saya dan adik-adik kelas yang lucu-lucu itu selalu menggoda kita untuk bertemu mereka kembali. Ruangan Agama Hindu di sekolah Madania memang dibagi menjadi tiga. Satu ruangan berisi tiga agama. Tetapi saya tidak keberatan dengan tetangga ruangan Agama Hindu ini. Justru itu yang membuat kita bersosialisai dengan teman-teman yang berbeda agama. Setelah 6 tahun belajar Agama Hindu aku mengetahui cara melakukan sembahyang atau sikap sembahyang Gayatri maupun Trisandya. Selain itu saya juga belajar bahwa sebelum dan sesudah kita belajar kita harus berdoa dan juga sebelum tidur. Selain itu saya juga belajar atau mengetahui berbagai macam pura yang ada di Jabodetabek, dan juga saya mengetahui dengan jelas sejarah Agama Hindu yang sangat amat rumit itu. Selain membaca dan menulis saat belajar agama Hindu kita bisa berkreatifitas dengan membuat power point tentang materi yang sedang dipelajari atau dengan cara membuat display. Terima kasih (:
Parung, 30 Januari 2013 Made Ayu Gitagayatri (7K)

Minggu, 14 Agustus 2011

Pendidikan di Madania By. Gusti Ayu Sutini

Sejak berdiri pada tahun 1998, Madania Sekolah Berwawasan Internasional (SBI Madania) hingga kini baru memiliki 4 kelas siswa Agama Hindu yang terdiri dari kelas 1, 4, 6 dan 10 dengan total siswa 5 orang. Dengan mengunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar disini terdapat ± 1500 siswa dengan latar belakang dan agama yang berbeda. Ada yang beragama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha dan Yehova. Sekolah ini terletak jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk kota yaitu di Komplek Perumahan Telaga Kahuripan, Parung - Bogor - Jawa Barat.
Di sini sebenarnya ada puluhan orang yang menggunakan nama dengan ciri khas Bali tetapi hanya tinggal 5 orang saja yang masih beragama Hindu. Dengan menyekolahkan putra-putri mereka di sekolah ini sudah dapat dipastikan tingkat ekonomi mereka adalah menengah ke atas karena uang pangkal untuk masuk ke sini pada tahun 2006 sebesar Rp. 45.000.000. dan SPP Rp. 1.250.000 per bulan. Dengan kemampuan finansial seperti ini bukan tidak mungkin bahwa mereka adalah golongan orang-orang yang berkualitas dalam hal pendidikan dan pengalaman.
Wahai orang-orang bijak, jika kita tetap mau mempermasalahkan dan membedakan saudara-saudara kita dengan stempel Hindu Bali dan Non Bali maka yakinlah akan semakin banyak lagi orang Hindu yang meninggalkan Hindu itu sendiri, sehingga akan susah bagi kita untuk mendapatkan SDM Hindu yang berkualitas, mampu dan peduli akan pendidikan Hindu di masa depan. Semoga Ida Sanghyang Widhi menuntun setiap langkah kita, “Om anno badrah kerto payantu wiswatah”.
Siswa Hindu di SBI Madania melakukan puja Gayatri atau Tri Sandya setiap hari pada saat siswa muslim Sholat dan siswa Buddha mengikuti program yang telah disepakati sedangkan siswa Kristen kebaktian/doa. Yang mana sangat jarang ada sekolah yang menyiapkan kebutuhan siswanya berdasarkan agama yang dianutnya. Sekolah ini merupakan laboratorium kehidupan bagi para brahmacari, bahwa dikehidupan nyata pun kita akan mengalami dan berkumpul dalam berbagai perbedaan. Di sini terdapat banyak siswa berprestasi tingkat nasional dan internasional namun juga ada siswa special need, ADHD, ADD, dan Asperger yang masih didampingi aide teacher saat belajar.
Kenangan pada masa brahmacari akan berpengaruh bagi seseorang dalam mendidik dan memberikan pendidikan bagi penerusnya dimasa mendatang. Oleh karena itulah maka disini para pendidik diharuskan untuk tidak mematikan kreatifitas siswa dalam KBM. Dalam menegur siswa pun guru dilarang mengunakan nada negatif. Misalnya teguran yang tidak benar adalah no running, no busy talking, atau kamu tidak tahu. Sebaliknya Guru diwajibkan menegur dengan kalimat walk please, silent please or be quiet please atau kamu seharusnya lebih rajin belajar.
Proses Pembelajaran Agama Hindu di SBI Madania berlangsung unik sesuai dengan karakter siswa dengan menggunakan metode active learning dan sebelum pelajaran dimulai selalu diawali dengan menyalakan dupa, Puja Gayatri atau Tri Sandya di depan altar lalu Suryanamaskar di atas karpet dan ruangan ber AC. Setelah itu barulah siswa belajar dengan aktif, santai, nyaman, dan tertib. Setiap Hari Raya Galungan bila tidak bersamaan dengan ujian semester biasanya siswa Hindu di ajak mengikuti sembahnyang bersama umat Hindu Bogor di Pura Giri Kusuma Bogor. Setelah sembahyang selesai mereka pun kembali ke sekolah dan belajar seperti biasa.
Kini SBI Madania telah dua kali berganti nama dan logo. Pada tahun 2010 SBI Madania berganti nama menjadi Madania Progressive Indonesia School dengan alas an karena sering mengikuti perlombaan/pertadingan dalam bidang olah raga tingkat Internasional maka nama Indonesia yang lebih ditonjolkan. Namun dengan beberapa koreksi dalam Logo Madania PIS pada waktu itu (Mind, Heart, and Spirit) kembali pada tahun 2011 berganti nama menjadi Madania With World Class Standar.

Di bawah ini adalah beberapa foto-foto siswa Hindu SBI Madania saat KBM.




Siswa Kelas 6 sedang mengikuti ujian praktik membuat banten, mebanten ,Tri Sandya dan Muspa di ruang Agama Hindu.

Foto sesaat setelah Tri Sandya di ruang agama Hindu SBI Madania sebelum sembahyang Galungan Ke Pura Giri Kusuma - Bogor.

Gambar Siswa-siswi Madania saat Tirtayatra Ke Bali.
Pada tanggal 10-14 Maret 2007 Siswa Hindu SBI Madania mengadakan program Tirtayatra ke Pura Lempuyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Besakih, Pura Batur, Pura Uluwatu, Pura Tanah Lot, dan Pura Rambut Siwi.

Gambar Siswa-siswi Madania saat Tirtayatra Ke Bandung.
Pada tanggal 7 April 2008 Siswa Hindu SBI Madania mengadakan program Tirtayatra ke 4 Pura di Bandung:
1. Pr. Wira Satya Lokanatha, Cimahi
2. Pr. Wira Satya Akasa, Sulaeman
3. Pr. Wira Satya Dharma, Ujung Berung
4. Pr. Wira Chandra Dharma, Secapa
5. Kunjungan ke Depag – Bandung.